Catatan Muhammad bin Badr al Umari

Jumat, 24 Juli 2015

Mendengarkan Ucapan Ahli Bid'ah

Muhammad bin Badr al Umari


Suatu hal yang sangat mengherankan pada jaman ini ialah bermudah-mudahnya manusia dalam mendengarkan perkataan ahli bid’ah. Mereka merasa aman-aman saja mendengarkan ucapan ahli bid’ah dan merasa sudah mampu menyaring mana yang haq dan mana yang bathil. Terlebih lagi hal semacam ini berusaha dilegalkan dan dibela secara mati-matian oleh para pengusung manhaj muwazanah.

Maka perhatikanlah ucapan seorang tabi’in yang masyhur, yaitu Abdullah bin Sirin :

كانوا في الزمن الأول لا يسألون عن الإسناد فلما وقعت الفتنة سألوا عن الإسناد لكي يأخذوا حديث أهل السنة ويدعوا حديث أهل البدع

“Para generasi awal (sahabat) tidaklah menanyakan sanad. Maka setelah terjadi fitnah, mereka menanyakan tentang sanad, suapaya mereka mengambil hadits dari ahlus sunnah dan meninggalkan hadits ahli bid’ah” (Sunan at Tirmidzi Kitabul ‘Ilal 5/740. Menukil dari At Ta’liqot Al Atsariyah hal.26)

Inilah ucapan beliau dan begitu pula para ulama` sejamannya. Mereka begitu hati-hati dalam memilih hadits, mengambil hadits dari ahlus sunnah dan meninggalkan hadits dari ahli bid’ah. Padahal para ahli bid’ah tersebut menyampaikan hadits, yaitu apa-apa yang disandarkan kepada Nabi berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, sifat akhlak, dan sifat perawakan beliau. Lalu bagaimana bisa kita menerima manhaj muwazanah yang mengakibatkan manusia bermudah-mudah mendengarkan perkataan ahli bid’ah sedangkan perkataan tersebut hanyalah hasil olahan otak dan hawa nafsu mereka??? Hal ini tentunya lebih parah dan lebih patut untuk ditinggalkan.