Segala puji hanya bagi Allah, Yang telah menurunkan Al Qur’an kepada umat manusia, sebagai pedoman hidup bagi mereka, yang tiada cela dan dusta di dalamnya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, seorang Rasul yang mulia, yang Allah utus dengan membawa sunnah, sebagai penjelas terhadap kitab yang diturunkan kepadanya. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman :
وَأَنْزَلْنَا
إِلَيْكَ الذِّّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
“Dan Kami telah menurunkan
kepadamu (wahai Muhammad) adz dzikr (as sunnah) supaya kamu menjelaskan kepada
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka (Al Qur’an).” (An Nahl : 44)
Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menyempurnakan
agama Islam, mencukupkan nikmat-Nya kepada seluruh alam, serta meridhai Islam
sebagai agama bagi manusia di seluruh siang dan malam. Allah telah berirman :
“Pada hari ini telah
Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku untukmu, serta
telah Kuridhai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al Maidah : 3)
Islam telah sempurna, syariat telah lengkap, Al Qur’an dan
As Sunnah telah diwariskan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam kepada
generasi awal umat ini, yaitu para sahabat.
Datang generasi kedua -yaitu tabi’ien- datang mengambil
warisan tersebut dari para sahabat, memburu ilmu syar’i dari mereka, demi
menjaga agama ini agar tetap tegak dan semakin meluas ke seantero dunia.
Muncul kemudian generasi ketiga -atba’ut tabi’ien-
mengambil ilmu syar’i dari para tabi’ien, lalu mengajarkannya kepada manusia
agar mereka mengambil petunjuk dari warisan yang amat berharga tersebut.
Detik-demi detik berlalu, hari demi hari berganti, semakin
lama ilmu syar’i semakin dilupakan. Manusia berpaling dari ilmu ukhrawi kepada
ilmu duniawi. Warisan Sang Rasul telah diabaikan, sehingga semakin menyebar
kesesatan, semakin meluas kebodohan, semakin canggih teknologi dan ilmu
pengetahuan, namun mereka semakin lupa akan hak-hak Ar Rahman.
Mereka mengatakan, "Buat apa
belajar agama, Amerika dan Eropa telah sampai ke bulan, mereka telah
menjelajahi angkasa, namun umat Islam masih duduk-duduk mengkaji agama, itu
kuno!! Kapan kita bisa menyusul kemajuan teknologi mereka??"
Kata-kata ini tidaklah keluar, kecuali berasal dari
orang-orang yang tidak lagi bersemangat mempelajari ilmu agama. Mereka
menyangka ilmu agama tidak lagi sesuai dengan kemajuan jaman. Padahal, semakin
berkembangnya jaman, ilmu agama seharusnya lebih dituntut karena perkembangan
teknologi tentu menyebabkan sarana-sarana kemaksiatan lebih mudah untuk
didapatkan. Taruhlah Amerika pernah pergi ke bulan -meskipun masih diperselisihkan
kebenarannya-, akan tetapi dengan ilmu agama, niscaya manusia akan meraih
sesuatu yang lebih tinggi dari bulan, lebih indah dari bintang-bintang, yaitu
surga Allah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, penuh kenikmatan.. penuh
kesenangan..
Saudaraku, renungkanlah! Seandainya tidak ada lagi orang
yang mau menuntut ilmu syar’i, niscaya tidak ada lagi calon-calon ulama’,
padahal para ulama’ semakin hari semakin jarang kita jumpai. Apabila ini
terjadi, maka tunggulah kesesatan umat manusia, kehidupan mereka akan menjadi
kacau, yang halal dianggap haram, sedangkan yang haram dianggap halal.
Rasulullah telah bersabda :
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ اِنْتِزَاعًا
يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ
الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤَسَاءَ
جُهَّالاً، فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا
“Sesungguhnya Allah tidaklah
mencabut ilmu (agama) sekali cabut dari hamba-hamba-Nya, akan tetapi Allah
mencabut ilmu (agama) dengan cara mencabut nyawa para ulama’. Sampai-sampai
bila Dia tidak menyisakan seorang ulama’ pun di muka bumi ini, niscaya manusia
akan mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka (orang-orang bodoh
tersebut) akan ditanya, dan mereka akan menjawabnya tanpa ilmu, sehingga mereka
tersesat dan menyesatkan.” (Hadits
Riwayat Bukhari dan Muslim).
Saudaraku –semoga Allah menjagamu-, diantara tanda-tanda
hari kiamat adalah diangkatnya ilmu agama, sedangkan kebodohan semakin
merajalela. Rasulullah telah bersabda :
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ
الْعِلْمُ، وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا
“Sesungguhnya diantara
tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah diangkatnya ilmu (agama), kokohnya kebodohan,
diminumnya khamr (sesuatu yang memabukkan -pen), dan nampaknya perzinaan.” (HR.
Bukhari).
Dimana-mana kita saksikan manusia tidak becus dalam shalat,
atau bahkan tidak shalat sama sekali. Sesungguhnya aku pernah bertanya kepada
sekumpulan pemuda muslim, apa saja rukun shalat itu, apa syarat-syarat sah
shalat, namun tidak satupun dari mereka yang mengetahuinya.
Sungguh ilmu syar’i benar-benar telah dilupakan. Padahal,
manusia tidaklah diciptakan di muka bumi ini, kecuali hanya untuk beribadah kepada
Allah ta’ala saja. Allah telah berfirman :
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin
dan manusia, kecuali hanyalah untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat :
56).
Lalu,
bagaimana bisa mereka beribadah kepada Allah tanpa mengetahui tata caranya.
Sungguh mustahil!!! Tidak heran kalau kebid’ahan dan kesesatan merajalela
dikarenakan manusianya beribadah kepada Allah tanpa dasar dari Al Qur’an dan As
Sunnah. Allahul Musta’an.
Menengok Kembali Perjuangan
Salaf
Para pendahulu kita yang shalih (salafush shalih) adalah
para teladan. Mereka korbankan jiwa, raga, dan harta demi mencari warisan Nabi
sallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka ibarat bendahara-bendahara Islam, yang
menjaga harta warisan tersebut dengan penuh kesungguhan. Rasulullah telah
bersabda :
“Sesungguhnya para ulama’
adalah para pewaris Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan keping
emas maupun perak, tetapi mereka hanya mewariskan ilmu (agama). Maka
barangsiapa mengambil warisan tersebut, maka dia telah mengambil bagian yang
banyak.” (HR. Abu Daud, Ahmad, at Tirmidzi, dengan sanad hasan (bagus)).
Imam Abu Hatim ar Razi bepergian untuk belajar
hadits-hadits Rasulullah dengan berjalan kaki, beliau menceritakan
pengalamannya, "Aku berjalan kaki (dalam menuntut ilmu) sejauh seribu farsakh
[1], kemudian aku tidak menghitungnya lagi."
Umar bin Abdul Karim ar Rawwasi pergi menuntut ilmu, beliau
belajar ilmu dari tiga ribu enam ratus (3600) syaikh. Dan di dalam salah satu
perjalanannya, sebagian jemarinya jatuh karena sangat dinginnya cuaca dan banyaknya
salju, sedangkan beliau tidak memiliki pemanas ketika itu.
Imam Ahmad berkata, "Syu’bah tinggal di sisi al Hakam bin
‘Utbah untuk berguru padanya selama delapan belas bulan hingga ia menjual
pondasi rumahnya (untuk biaya)."
Yahya bin Ma’in mendapatkan warisan sebesar satu juta lima
ratus dirham [2]. Beliau membelanjakan semuanya untuk biaya mencari hadits,
hingga tidak tersisa lagi dari hartanya meskipun hanya sendal untuk dipakai.
Dimanakah manusia jaman sekarang? Dimanakah para penuntut
ilmu? Dimanakah para pemuda? Mereka hanya duduk-duduk di tepi jalan, memandang
lawan jenis yang sedang lewat, serta memadati cafe-cafe dan night club. Mereka
benar-benar telah melupakan Al Qur’an dan hadits Nabi sallallahu ‘alaihi wa
sallam. Bahkan mereka alergi untuk mendengarkannya. Laa haula walaa quwwata
illa biLlah .. Allah telah berfirman :
“Dan sungguh Kami telah
memudahkan Al Qur’an untuk dipelajari, maka adakah orang yang mau
mempelajari?!” (QS. Al Qomar : 17).
Semoga Allah merahmati Mahmud bin Umar az Zamakhsyari,
beliau melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu (agama). Tatkala di sebagian
perjalanannya di kota-kota wilayah Kharizm, beliau ditimpa musim dingin yang
sangat luar biasa dan salju yang sangat banyak, maka salah satu kakinya putus
karena dingin yang luar biasa tersebut.
Peranan Orang Tua
Para salaf begitu memperhatikan pendidikan agama bagi
anak-anak mereka. Mereka sangat ingin anak-anak mereka menjadi orang yang
berilmu. Mereka tidak menyibukkan anak-anak mereka dengan ilmu-ilmu dunia,
mereka ingin anak-anak tersebut menjadi panji-panji Islam. Sekalipun keberadaan
anak-anak tersebut amat jauh dari mereka, sekalipun susah dan bahaya perjalanan
di padang pasir yang gersang senantiasa menghadang, akan tetapi mereka lebih
mengutamakan kepergian sibuah hati ke jalan menuntut ilmu syar’i agar
bermanfaat bagi dirinya, orang tua, Islam, dan kaum muslimin.
Ali bin ‘Ashim al Wasithi berkata, "Ayahku memberikan
kepadaku uang sebanyak seratus ribu dirham seraya berkata,`Pergi dan tempuhlah
perjalanan untuk menuntut ilmu, dan aku tidak ingin melihat mukamu kecuali bila
engkau telah hafal seratus ribu hadits.`” Maka beliau menempuh perjalanan jauh
untuk menuntut ilmu. Kemudian kembali ke kampung halaman untuk menyebarkan
ilmunya hingga yang hadir di majelisnya lebih dari tiga puluh ribu orang.
Abu Said as Sam’ani dibawa oleh ayahnya ke majelis ilmu,
sedangkan beliau masih berusia empat tahun. Beliau mendengarkan hadits dari
syaikh yang paling banyak sanad haditsnya pada masa itu, yaitu Abdul Ghaffar
asy Syairazi. Kemudian beliau berpetualang ke berbagai negara, hingga beliau
belajar ilmu agama dari tujuh ribu syaikh.
Wahai para orang tua.. perhatikanlah mereka! Kemudian
bandingkan dengan diri kalian! Sudahkah kalian bersemangat sebagaimana mereka
telah bersemangat? Sudikah kalian mencontoh semangat mereka meski hanya
sedikit?! Lihatlah tingkah laku anak-anak kalian! Lihatlah kepribadian mereka!
Lihatlah cara mereka berpakaian! Perhatikan dan renungkan! Allah telah
berfirman yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman,
jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah
manusia dan bebatuan.” ( QS. At Tahrim : 6).
Kalaulah tidak sanggup memberikan pendidikan agama kepada
anak secara fokus, maka perintahkan mereka untuk menghadiri majelis-majelis
ilmu sebagai bekal spiritual dan penyuci qalbu. Di tengah arus perkembangan
jaman ini, hendaknya para orang tua lebih memperhatikan pendidikan agama bagi
anaknya.
Semangat Para Pemuda
Sungguh kita telah melihat sebagian besar kalangan pemuda
tidak lagi bersemangat menuntut ilmu. Mereka tidak tahu apa itu hak-hak Allah,
apa itu hak-hak rasul-Nya. Bahkan mayoritas mereka tidak becus dalam shalat,
atau bahkan jarang shalat, atau bahkan tidak shalat sama sekali.
Imam Bukhari telah hafal al Qur’an sejak usia tujuh tahun,
dan beliau hafal kitab hadits al Muwaththa’ pada usia sepuluh tahun. Lalu
bagaimana dengan kita?!!
Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Terkadang aku ingin
cepat-cepat pergi belajar hadits, maka ibuku memegang pakaianku (agar aku tidak
jadi berangkat) dan berkata,`Tunggulah sampai manusia mengumandangkan adzan
subuh atau hingga mereka shalat subuh.`" Beliau begitu bersemangat menuntut
ilmu agama. Lalu bagaimana dengan kita?!!
Jangan Berputus Asa
Wahai saudaraku.. janganlah kalian berputus asa dari
menuntut ilmu! Meskipun seandainya kalian hanyalah anak-anak orang miskin,
ataupun anak-anak yatim, janganlah sekali-kali berputus asa dalam menuntut
ilmu. Sesungguhnya al Imam asy Syafi’i rahimahullah, beliau adalah seorang anak
yatim lagi faqir, namun beliau bersungguh-sungguh menuntut ilmu agama hingga
akhirnya menjadi seorang Imam kaum muslimin.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga seorang anak yatim.
Beliau begitu jenius, rajin, serta berakhlak mulia. Semua itu terlihat semenjak
beliau masih kecil, sampai-sampai sebagian ahli sastra mengatakan,”Saya
mengeluarkan biaya untuk anak saya. Saya datangkan para pengajar agar mereka
terdidik dengan baik, akan tetapi saya tidak melihat keberhasilan mereka. Dan
ini Ahmad bin Hanbal, seorang anak yatim. Lihatlah bagaimana?!” Dia
terheran-heran melihat adab dan tingkah laku Imam Ahmad yang mulia. Dan pada
akhirnya, beliau menjadi Imam kaum muslimin, serta hafal satu juta hadits,
sebuah jumlah yang sangat spektakuler yang tidak dapat dicapai oleh orang lain.
Tidak ada kata terlambat dalam belajar. Para sahabat
belajar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam padahal usia mereka banyak
yang telah senja. Syaikh al Muhaddits Abdussamad Syarafuddin baru belajar agama
setelah usia beliau 50 tahun, kemudian beliau mampu menjadi seorang ulama` ahli
hadits. Imam Ibnu Hazm baru memulai belajar agama setelah usia beliau 26 tahun.
Dan masih banyak contoh lainnya. Karena itu bersemangat dan berjuanglah wahai
pemuda!
Dimana Aku Menuntut Ilmu?
Saudaraku.. perhatikanlah! Apabila kita amati, niscaya kita
tahu bahwa manusia di muka bumi ini terbagi menjadi empat golongan :
1. Golongan pertama adalah
orang-orang yang tidak mau menuntut ilmu dan berpaling darinya, mereka menjadi
orang-orang bodoh, tidak mengetahui mana yang halal dan mana yang haram
sehingga mereka melanggar hukum-hukum Allah. Dan pada akhirnya mereka tersesat
dan binasa.
2. Orang-orang yang menunut
ilmu, namun salah dalam menuntut ilmu. Mereka mempelajari ilmu sihir yang
menyebabkan kekufuran, mempelajari ilmu filsafat atau kalam -entah dinamakan
filsafat Yunani ataupun diatas namakan filsafat Islam- yang ujung-ujungnya
hanyalah kebingungan dan kerancuan terhadap aqidah Islam.
Ar Rozy, seorang ahli filsafat
atau kalam telah menyesali dirinya, dia melantunkan sebuah syair :
نِـــهَــايَـة
إقـدامِ العُـقـولِ عِـقـــالُ
وأكـثـرُ سعْي العـالمين ضَلالُ
وأرواحنا في
وحْشةْ من جُسومنا وغـــايـة دنـيـانـا
أذى ووَبـــالُ
ولم نستـفدْ
من بحثنا طُوْلَ عُمْرِنا سِوَى أنْ
جَمَعْنا فيه قِيْلَ وقالوُا
Akibat mengedepankan akal
hanyalah keruwetan
Dan kebanyakan jalannya makhluk adalah
kesesatan
Arwah dari jasad kami dalam
selimut kerisauan
Dan puncak dunia kami adalah sakit dan
siksaan
Pembahasan kami seumur hidup
tak datangkan kemanfaatan
Kecuali hanya omong kosong yang kami
kumpulkan [3]
Atau mereka mempelajari
ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat lainnya. Dan inilah keumuman manusia pada jaman
sekarang.
3. Orang-orang yang menuntut
ilmu, serta benar dalam menuntut ilmu. Mereka mempelajari ilmu aqidah dan
tauhid, mengkaji Al Qur’an dan As Sunnah, namun mereka tidak mau mengamalkannya
karena mengekor syahwat, atau terseret arus mayoritas manusia, sehingga mereka
seperti orang-orang Yahudi dan dimurkai oleh Allah ‘azza wa jalla.
4. Orang-orang yang menuntut
ilmu, benar dalam menuntut ilmu, serta benar pula dalam mengamalkannya. Mereka
mempelajari ilmu aqidah dan tauhid, mengkaji Al Qur’an dan As Sunnah, mempelajari
mana yang halal dan yang haram, kemudian mengamalkan ilmu tersebut. Inilah
golongan yang selamat.
Maka dari itu wahai saudaraku -semoga Allah selalu
menjagamu-, wajib bagi kita untuk mempelajari ilmu tauhid (ilmu tentang keesaan
Allah dalam rububiyah, uluhiyah, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya) karena ia
adalah ilmu yang pertama kali wajib dipelajari oleh setiap hamba, penyebab
masuknya seorang hamba ke dalam surga, serta merupakan dakwah pertama dan utama
seluruh rasul.
Maka pelajarilah ilmu ini dengan sungguh-sungguh, janganlah
merasa puas dengan cukup mengatakan bahwa Allah itu Esa. Tidak sesederhana
itu!! Selain rububiyah (yaitu bahwa hanya Allah-lah pencipta, pemilik,
pengatur, pemelihara, serta penguasa alam raya ini), kita harus memahami
uluhiyah Allah (yaitu bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah dan dimintai.
Karena Dialah pencipta, pemilik, pengatur, pemelihara, serta penguasa alam
semesta ini, maka tidak patut bagi seorangpun, siapapun dia, untuk menyembah
dan meminta kepada selain-Nya), nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta mengetahui
pembatal-pembatal tauhid tersebut.
Kemudian pelajarilah rukun iman dan Islam, serta pahamilah
dengan baik dan amalkan. Bila kalian sulit untuk mencari majelis ilmu yang
mengajarkan hal-hal tersebut, maka bacalah buku-buku yang ditulis oleh Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Abdul Aziz bin
Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i,
Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, Syaikh Shalih al Fauzan, Syaikh
Muhammad bin Jamil Zainu, Syaikh Abdullah al Jibrin –rahimahum wa
hafizhahumullah-, serta ulama` ahlus sunnah lainnya, dimana mereka telah
memenuhi kitab-kitab mereka dengan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah
serta perkataan ulama` salaf, semoga Allah merahmati kalian.
Kemuliaan Ilmu
Allah ta’ala telah berfirman : “Niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujadalah : 11).
Sulaiman bin Harb adalah salah seorang guru Imam Bukhari.
Diletakkan untuknya mimbar khusus di Baghdad, di dekat istana khalifah, di
tempat yang tinggi, agar ia duduk di atasnya dan mengajarkan hadits untuk
manusia. Amirul mukminin (khalifah/raja) Makmun ar Rasyid serta para pejabat
kekhalifahan menghadiri majelisnya. Setiap kata yang keluar dari lisan Sulaiman
bin Harb ditulis oleh amirul mukminin dengan tangannya sendiri. Pernah dihitung
jumlah orang yang hadir di majelisnya mencapai empat puluh ribu orang.
Betapa mulianya Sulaiman bin Harb, bahkan amirul mukminin
dan para pejabat memuliakan majelisnya, itu semua karena ilmu syar’i yang
dimilikinya. Para raja dan pejabat adalah ahli dalam ilmu dunia, sedangkan
Sulaiman bin Harb dan para ulama` lainnya adalah ahli dalam ilmu agama, manakah
yang lebih dimuliakan?!
Abul Aswad berkata, "Tidak ada sesuatu yang lebih mulia
daripada ilmu (syar’i). Para raja adalah hakim bagi manusia, sedangkan para
ulama` adalah hakim bagi para raja."
Wahai saudaraku -semoga Allah memuliakan kalian-, aku ingin
bertanya kepada kalian, majelis Sulaiman bin Harb dihadiri oleh empat puluh
ribu orang, sekarang, dimana kita jumpai jumlah sebanyak itu? Di
majelis-majelis ilmu ataukah di pertandingan-pertandingan sepak bola?!
Jawablah..! Di majelis-majelis ilmu ataukah di acara konser musik?! Jawablah..!
Sungguh manusia lebih memilih menempuh perjalanan jauh,
antri berdesak-desakan membeli tiket mahal, kemudian menikmati acara konser,
atau menonton pertandingan dengan hati gelisah, takut kalau tim kesayangannya
kalah, atau bahkan rela tawuran dan menzalimi orang lain demi tim pujaannya.
Ironis sungguh ironis.. mengeluarkan banyak uang dan tenaga untuk mencari dosa,
namun meninggalkan majelis ilmu yang penuh ketenangan hati dan pahala serta
tidak membutuhkan banyak biaya dan tenaga. Allahul Musta’an…
Wahai saudaraku.. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam telah
bersabda :
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ
اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh
perjalanan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan
menuju surga.” (HR. Muslim, Abu Daud, at Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad).
Berjam-jam kita menuntut ilmu dunia. Lalu, apakah kita
enggan menuntut ilmu agama padahal ilmu tersebut lebih mulia?! Sempatkanlah
datang ke majelis-majelis ilmu barang sebentar, niscaya kalian akan mendapatkan
kelapangan hati dan ketenangan jiwa. Renungkanlah wahai saudaraku.. semoga
Allah memberikan kepada kita semangat yang membara untuk menuntut ilmu agama..
Allahumma amiin.. Tidak ada kata terlambat.. tidak ada kata menunda-nunda
lagi.. Bersegeralah..!! [4]
END NOTE :
[1] 1 farsakh = 5 km.
[2] Jumlah yang sangat besar
kala itu; dirham : mata uang dari perak.
[3] Al Qoulul Mufid 1/20, Syaikh
Ibnu Utsaimin.
[4] Risalah ini kami tulis pada tahun 2006.