Catatan Muhammad bin Badr al Umari

Selasa, 12 Agustus 2014

Warisan Yang Dilupakan

Muhammad al Umari


Segala puji hanya bagi Allah, Yang telah menurunkan Al Qur’an kepada umat manusia, sebagai pedoman hidup bagi mereka, yang tiada cela dan dusta di dalamnya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, seorang Rasul yang mulia, yang Allah utus dengan membawa sunnah, sebagai penjelas terhadap kitab yang diturunkan kepadanya. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman :

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) adz dzikr (as sunnah) supaya kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka (Al Qur’an).” (An Nahl : 44)
         
          Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menyempurnakan agama Islam, mencukupkan nikmat-Nya kepada seluruh alam, serta meridhai Islam sebagai agama bagi manusia di seluruh siang dan malam. Allah telah berirman :
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku untukmu, serta telah Kuridhai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al Maidah : 3)

          Islam telah sempurna, syariat telah lengkap, Al Qur’an dan As Sunnah telah diwariskan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam kepada generasi awal umat ini, yaitu para sahabat.

          Datang generasi kedua -yaitu tabi’ien- datang mengambil warisan tersebut dari para sahabat, memburu ilmu syar’i dari mereka, demi menjaga agama ini agar tetap tegak dan semakin meluas ke seantero dunia.

          Muncul kemudian generasi ketiga -atba’ut tabi’ien- mengambil ilmu syar’i dari para tabi’ien, lalu mengajarkannya kepada manusia agar mereka mengambil petunjuk dari warisan yang amat berharga tersebut.

          Detik-demi detik berlalu, hari demi hari berganti, semakin lama ilmu syar’i semakin dilupakan. Manusia berpaling dari ilmu ukhrawi kepada ilmu duniawi. Warisan Sang Rasul telah diabaikan, sehingga semakin menyebar kesesatan, semakin meluas kebodohan, semakin canggih teknologi dan ilmu pengetahuan, namun mereka semakin lupa akan hak-hak Ar Rahman.

Mereka mengatakan, "Buat apa belajar agama, Amerika dan Eropa telah sampai ke bulan, mereka telah menjelajahi angkasa, namun umat Islam masih duduk-duduk mengkaji agama, itu kuno!! Kapan kita bisa menyusul kemajuan teknologi mereka??"

          Kata-kata ini tidaklah keluar, kecuali berasal dari orang-orang yang tidak lagi bersemangat mempelajari ilmu agama. Mereka menyangka ilmu agama tidak lagi sesuai dengan kemajuan jaman. Padahal, semakin berkembangnya jaman, ilmu agama seharusnya lebih dituntut karena perkembangan teknologi tentu menyebabkan sarana-sarana kemaksiatan lebih mudah untuk didapatkan. Taruhlah Amerika pernah pergi ke bulan -meskipun masih diperselisihkan kebenarannya-, akan tetapi dengan ilmu agama, niscaya manusia akan meraih sesuatu yang lebih tinggi dari bulan, lebih indah dari bintang-bintang, yaitu surga Allah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, penuh kenikmatan.. penuh kesenangan..

          Saudaraku, renungkanlah! Seandainya tidak ada lagi orang yang mau menuntut ilmu syar’i, niscaya tidak ada lagi calon-calon ulama’, padahal para ulama’ semakin hari semakin jarang kita jumpai. Apabila ini terjadi, maka tunggulah kesesatan umat manusia, kehidupan mereka akan menjadi kacau, yang halal dianggap haram, sedangkan yang haram dianggap halal. Rasulullah telah bersabda :

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤَسَاءَ جُهَّالاً، فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا

“Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu (agama) sekali cabut dari hamba-hamba-Nya, akan tetapi Allah mencabut ilmu (agama) dengan cara mencabut nyawa para ulama’. Sampai-sampai bila Dia tidak menyisakan seorang ulama’ pun di muka bumi ini, niscaya manusia akan mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka (orang-orang bodoh tersebut) akan ditanya, dan mereka akan menjawabnya tanpa ilmu, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan.”  (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

          Saudaraku –semoga Allah menjagamu-, diantara tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu agama, sedangkan kebodohan semakin merajalela. Rasulullah telah bersabda :

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ،  وَيَظْهَرَ الزِّنَا

“Sesungguhnya diantara tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah diangkatnya ilmu (agama), kokohnya kebodohan, diminumnya khamr (sesuatu yang memabukkan -pen), dan nampaknya perzinaan.” (HR. Bukhari).

          Dimana-mana kita saksikan manusia tidak becus dalam shalat, atau bahkan tidak shalat sama sekali. Sesungguhnya aku pernah bertanya kepada sekumpulan pemuda muslim, apa saja rukun shalat itu, apa syarat-syarat sah shalat, namun tidak satupun dari mereka yang mengetahuinya.

          Sungguh ilmu syar’i benar-benar telah dilupakan. Padahal, manusia tidaklah diciptakan di muka bumi ini, kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah ta’ala saja. Allah telah berfirman :

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali hanyalah untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat : 56).

Lalu, bagaimana bisa mereka beribadah kepada Allah tanpa mengetahui tata caranya. Sungguh mustahil!!! Tidak heran kalau kebid’ahan dan kesesatan merajalela dikarenakan manusianya beribadah kepada Allah tanpa dasar dari Al Qur’an dan As Sunnah. Allahul Musta’an.


Menengok Kembali Perjuangan Salaf

          Para pendahulu kita yang shalih (salafush shalih) adalah para teladan. Mereka korbankan jiwa, raga, dan harta demi mencari warisan Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka ibarat bendahara-bendahara Islam, yang menjaga harta warisan tersebut dengan penuh kesungguhan. Rasulullah telah bersabda :
“Sesungguhnya para ulama’ adalah para pewaris Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan keping emas maupun perak, tetapi mereka hanya mewariskan ilmu (agama). Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, maka dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Daud, Ahmad, at Tirmidzi, dengan sanad hasan (bagus)).

          Imam Abu Hatim ar Razi bepergian untuk belajar hadits-hadits Rasulullah dengan berjalan kaki, beliau menceritakan pengalamannya, "Aku berjalan kaki (dalam menuntut ilmu) sejauh seribu farsakh [1], kemudian aku tidak menghitungnya lagi."

          Umar bin Abdul Karim ar Rawwasi pergi menuntut ilmu, beliau belajar ilmu dari tiga ribu enam ratus (3600) syaikh. Dan di dalam salah satu perjalanannya, sebagian jemarinya jatuh karena sangat dinginnya cuaca dan banyaknya salju, sedangkan beliau tidak memiliki pemanas ketika itu.

          Imam Ahmad berkata, "Syu’bah tinggal di sisi al Hakam bin ‘Utbah untuk berguru padanya selama delapan belas bulan hingga ia menjual pondasi rumahnya (untuk biaya)."

          Yahya bin Ma’in mendapatkan warisan sebesar satu juta lima ratus dirham [2]. Beliau membelanjakan semuanya untuk biaya mencari hadits, hingga tidak tersisa lagi dari hartanya meskipun hanya sendal untuk dipakai.

          Dimanakah manusia jaman sekarang? Dimanakah para penuntut ilmu? Dimanakah para pemuda? Mereka hanya duduk-duduk di tepi jalan, memandang lawan jenis yang sedang lewat, serta memadati cafe-cafe dan night club. Mereka benar-benar telah melupakan Al Qur’an dan hadits Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan mereka alergi untuk mendengarkannya. Laa haula walaa quwwata illa biLlah .. Allah telah berfirman :
“Dan sungguh Kami telah memudahkan Al Qur’an untuk dipelajari, maka adakah orang yang mau mempelajari?!” (QS. Al Qomar : 17).

          Semoga Allah merahmati Mahmud bin Umar az Zamakhsyari, beliau melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu (agama). Tatkala di sebagian perjalanannya di kota-kota wilayah Kharizm, beliau ditimpa musim dingin yang sangat luar biasa dan salju yang sangat banyak, maka salah satu kakinya putus karena dingin yang luar biasa tersebut.


Peranan Orang Tua

          Para salaf begitu memperhatikan pendidikan agama bagi anak-anak mereka. Mereka sangat ingin anak-anak mereka menjadi orang yang berilmu. Mereka tidak menyibukkan anak-anak mereka dengan ilmu-ilmu dunia, mereka ingin anak-anak tersebut menjadi panji-panji Islam. Sekalipun keberadaan anak-anak tersebut amat jauh dari mereka, sekalipun susah dan bahaya perjalanan di padang pasir yang gersang senantiasa menghadang, akan tetapi mereka lebih mengutamakan kepergian sibuah hati ke jalan menuntut ilmu syar’i agar bermanfaat bagi dirinya, orang tua, Islam, dan kaum muslimin.

          Ali bin ‘Ashim al Wasithi berkata, "Ayahku memberikan kepadaku uang sebanyak seratus ribu dirham seraya berkata,`Pergi dan tempuhlah perjalanan untuk menuntut ilmu, dan aku tidak ingin melihat mukamu kecuali bila engkau telah hafal seratus ribu hadits.`” Maka beliau menempuh perjalanan jauh untuk menuntut ilmu. Kemudian kembali ke kampung halaman untuk menyebarkan ilmunya hingga yang hadir di majelisnya lebih dari tiga puluh ribu orang.

          Abu Said as Sam’ani dibawa oleh ayahnya ke majelis ilmu, sedangkan beliau masih berusia empat tahun. Beliau mendengarkan hadits dari syaikh yang paling banyak sanad haditsnya pada masa itu, yaitu Abdul Ghaffar asy Syairazi. Kemudian beliau berpetualang ke berbagai negara, hingga beliau belajar ilmu agama dari tujuh ribu syaikh.

          Wahai para orang tua.. perhatikanlah mereka! Kemudian bandingkan dengan diri kalian! Sudahkah kalian bersemangat sebagaimana mereka telah bersemangat? Sudikah kalian mencontoh semangat mereka meski hanya sedikit?! Lihatlah tingkah laku anak-anak kalian! Lihatlah kepribadian mereka! Lihatlah cara mereka berpakaian! Perhatikan dan renungkan! Allah telah berfirman yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan.” ( QS. At Tahrim : 6).

          Kalaulah tidak sanggup memberikan pendidikan agama kepada anak secara fokus, maka perintahkan mereka untuk menghadiri majelis-majelis ilmu sebagai bekal spiritual dan penyuci qalbu. Di tengah arus perkembangan jaman ini, hendaknya para orang tua lebih memperhatikan pendidikan agama bagi anaknya.


Semangat Para Pemuda

          Sungguh kita telah melihat sebagian besar kalangan pemuda tidak lagi bersemangat menuntut ilmu. Mereka tidak tahu apa itu hak-hak Allah, apa itu hak-hak rasul-Nya. Bahkan mayoritas mereka tidak becus dalam shalat, atau bahkan jarang shalat, atau bahkan tidak shalat sama sekali.

          Imam Bukhari telah hafal al Qur’an sejak usia tujuh tahun, dan beliau hafal kitab hadits al Muwaththa’ pada usia sepuluh tahun. Lalu bagaimana dengan kita?!!

          Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Terkadang aku ingin cepat-cepat pergi belajar hadits, maka ibuku memegang pakaianku (agar aku tidak jadi berangkat) dan berkata,`Tunggulah sampai manusia mengumandangkan adzan subuh atau hingga mereka shalat subuh.`" Beliau begitu bersemangat menuntut ilmu agama. Lalu bagaimana dengan kita?!!


Jangan Berputus Asa

          Wahai saudaraku.. janganlah kalian berputus asa dari menuntut ilmu! Meskipun seandainya kalian hanyalah anak-anak orang miskin, ataupun anak-anak yatim, janganlah sekali-kali berputus asa dalam menuntut ilmu. Sesungguhnya al Imam asy Syafi’i rahimahullah, beliau adalah seorang anak yatim lagi faqir, namun beliau bersungguh-sungguh menuntut ilmu agama hingga akhirnya menjadi seorang Imam kaum muslimin.

          Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga seorang anak yatim. Beliau begitu jenius, rajin, serta berakhlak mulia. Semua itu terlihat semenjak beliau masih kecil, sampai-sampai sebagian ahli sastra mengatakan,”Saya mengeluarkan biaya untuk anak saya. Saya datangkan para pengajar agar mereka terdidik dengan baik, akan tetapi saya tidak melihat keberhasilan mereka. Dan ini Ahmad bin Hanbal, seorang anak yatim. Lihatlah bagaimana?!” Dia terheran-heran melihat adab dan tingkah laku Imam Ahmad yang mulia. Dan pada akhirnya, beliau menjadi Imam kaum muslimin, serta hafal satu juta hadits, sebuah jumlah yang sangat spektakuler yang tidak dapat dicapai oleh orang lain.

          Tidak ada kata terlambat dalam belajar. Para sahabat belajar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam padahal usia mereka banyak yang telah senja. Syaikh al Muhaddits Abdussamad Syarafuddin baru belajar agama setelah usia beliau 50 tahun, kemudian beliau mampu menjadi seorang ulama` ahli hadits. Imam Ibnu Hazm baru memulai belajar agama setelah usia beliau 26 tahun. Dan masih banyak contoh lainnya. Karena itu bersemangat dan berjuanglah wahai pemuda!


Dimana Aku Menuntut Ilmu?

          Saudaraku.. perhatikanlah! Apabila kita amati, niscaya kita tahu bahwa manusia di muka bumi ini terbagi menjadi empat golongan :

1. Golongan pertama adalah orang-orang yang tidak mau menuntut ilmu dan berpaling darinya, mereka menjadi orang-orang bodoh, tidak mengetahui mana yang halal dan mana yang haram sehingga mereka melanggar hukum-hukum Allah. Dan pada akhirnya mereka tersesat dan binasa.

2. Orang-orang yang menunut ilmu, namun salah dalam menuntut ilmu. Mereka mempelajari ilmu sihir yang menyebabkan kekufuran, mempelajari ilmu filsafat atau kalam -entah dinamakan filsafat Yunani ataupun diatas namakan filsafat Islam- yang ujung-ujungnya hanyalah kebingungan dan kerancuan terhadap aqidah Islam.

Ar Rozy, seorang ahli filsafat atau kalam telah menyesali dirinya, dia melantunkan sebuah syair :

نِـــهَــايَـة إقـدامِ العُـقـولِ عِـقـــالُ     وأكـثـرُ سعْي العـالمين ضَلالُ
وأرواحنا في وحْشةْ من جُسومنا     وغـــايـة دنـيـانـا أذى ووَبـــالُ
ولم نستـفدْ من بحثنا طُوْلَ عُمْرِنا     سِوَى أنْ جَمَعْنا فيه قِيْلَ وقالوُا

Akibat mengedepankan akal hanyalah keruwetan
     Dan kebanyakan jalannya makhluk adalah kesesatan
Arwah dari jasad kami dalam selimut kerisauan
     Dan puncak dunia kami adalah sakit dan siksaan
Pembahasan kami seumur hidup tak datangkan kemanfaatan
     Kecuali hanya omong kosong yang kami kumpulkan [3]

Atau mereka mempelajari ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat lainnya. Dan inilah keumuman manusia pada jaman sekarang.

3. Orang-orang yang menuntut ilmu, serta benar dalam menuntut ilmu. Mereka mempelajari ilmu aqidah dan tauhid, mengkaji Al Qur’an dan As Sunnah, namun mereka tidak mau mengamalkannya karena mengekor syahwat, atau terseret arus mayoritas manusia, sehingga mereka seperti orang-orang Yahudi dan dimurkai oleh Allah ‘azza wa jalla.

4. Orang-orang yang menuntut ilmu, benar dalam menuntut ilmu, serta benar pula dalam mengamalkannya. Mereka mempelajari ilmu aqidah dan tauhid, mengkaji Al Qur’an dan As Sunnah, mempelajari mana yang halal dan yang haram, kemudian mengamalkan ilmu tersebut. Inilah golongan yang selamat.

          Maka dari itu wahai saudaraku -semoga Allah selalu menjagamu-, wajib bagi kita untuk mempelajari ilmu tauhid (ilmu tentang keesaan Allah dalam rububiyah, uluhiyah, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya) karena ia adalah ilmu yang pertama kali wajib dipelajari oleh setiap hamba, penyebab masuknya seorang hamba ke dalam surga, serta merupakan dakwah pertama dan utama seluruh rasul.

          Maka pelajarilah ilmu ini dengan sungguh-sungguh, janganlah merasa puas dengan cukup mengatakan bahwa Allah itu Esa. Tidak sesederhana itu!! Selain rububiyah (yaitu bahwa hanya Allah-lah pencipta, pemilik, pengatur, pemelihara, serta penguasa alam raya ini), kita harus memahami uluhiyah Allah (yaitu bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah dan dimintai. Karena Dialah pencipta, pemilik, pengatur, pemelihara, serta penguasa alam semesta ini, maka tidak patut bagi seorangpun, siapapun dia, untuk menyembah dan meminta kepada selain-Nya), nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta mengetahui pembatal-pembatal tauhid tersebut.

          Kemudian pelajarilah rukun iman dan Islam, serta pahamilah dengan baik dan amalkan. Bila kalian sulit untuk mencari majelis ilmu yang mengajarkan hal-hal tersebut, maka bacalah buku-buku yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, Syaikh Shalih al Fauzan, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Syaikh Abdullah al Jibrin –rahimahum wa hafizhahumullah-, serta ulama` ahlus sunnah lainnya, dimana mereka telah memenuhi kitab-kitab mereka dengan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah serta perkataan ulama` salaf, semoga Allah merahmati kalian.


Kemuliaan Ilmu

          Allah ta’ala telah berfirman : “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujadalah : 11).

          Sulaiman bin Harb adalah salah seorang guru Imam Bukhari. Diletakkan untuknya mimbar khusus di Baghdad, di dekat istana khalifah, di tempat yang tinggi, agar ia duduk di atasnya dan mengajarkan hadits untuk manusia. Amirul mukminin (khalifah/raja) Makmun ar Rasyid serta para pejabat kekhalifahan menghadiri majelisnya. Setiap kata yang keluar dari lisan Sulaiman bin Harb ditulis oleh amirul mukminin dengan tangannya sendiri. Pernah dihitung jumlah orang yang hadir di majelisnya mencapai empat puluh ribu orang.

          Betapa mulianya Sulaiman bin Harb, bahkan amirul mukminin dan para pejabat memuliakan majelisnya, itu semua karena ilmu syar’i yang dimilikinya. Para raja dan pejabat adalah ahli dalam ilmu dunia, sedangkan Sulaiman bin Harb dan para ulama` lainnya adalah ahli dalam ilmu agama, manakah yang lebih dimuliakan?!

          Abul Aswad berkata, "Tidak ada sesuatu yang lebih mulia daripada ilmu (syar’i). Para raja adalah hakim bagi manusia, sedangkan para ulama` adalah hakim bagi para raja."

          Wahai saudaraku -semoga Allah memuliakan kalian-, aku ingin bertanya kepada kalian, majelis Sulaiman bin Harb dihadiri oleh empat puluh ribu orang, sekarang, dimana kita jumpai jumlah sebanyak itu? Di majelis-majelis ilmu ataukah di pertandingan-pertandingan sepak bola?! Jawablah..! Di majelis-majelis ilmu ataukah di acara konser musik?! Jawablah..!

          Sungguh manusia lebih memilih menempuh perjalanan jauh, antri berdesak-desakan membeli tiket mahal, kemudian menikmati acara konser, atau menonton pertandingan dengan hati gelisah, takut kalau tim kesayangannya kalah, atau bahkan rela tawuran dan menzalimi orang lain demi tim pujaannya. Ironis sungguh ironis.. mengeluarkan banyak uang dan tenaga untuk mencari dosa, namun meninggalkan majelis ilmu yang penuh ketenangan hati dan pahala serta tidak membutuhkan banyak biaya dan tenaga. Allahul Musta’an

          Wahai saudaraku.. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh perjalanan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, Abu Daud, at Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad).

          Berjam-jam kita menuntut ilmu dunia. Lalu, apakah kita enggan menuntut ilmu agama padahal ilmu tersebut lebih mulia?! Sempatkanlah datang ke majelis-majelis ilmu barang sebentar, niscaya kalian akan mendapatkan kelapangan hati dan ketenangan jiwa. Renungkanlah wahai saudaraku.. semoga Allah memberikan kepada kita semangat yang membara untuk menuntut ilmu agama.. Allahumma amiin.. Tidak ada kata terlambat.. tidak ada kata menunda-nunda lagi.. Bersegeralah..!! [4]



END NOTE :
[1] 1 farsakh = 5 km.
[2] Jumlah yang sangat besar kala itu; dirham : mata uang dari perak.
[3] Al Qoulul Mufid 1/20, Syaikh Ibnu Utsaimin.
[4] Risalah ini kami tulis pada tahun 2006.