Muhammad al Umari
CATATAN TERHADAP TULISAN "Rasul ﷺ Tidak Mengakui Mereka (Surat kepada para tokoh) Oleh: ..... ..... ..... (tidak perlu disebutkan nama)"
-----
Teks Tulisan :
Saya heran mengapa hadits ini jarang dibahas, atau hampir-hampir tak terdengar. Ataukah mungkin kita yang lalai?
Rasulullah ﷺ bersabda;
«اسْمَعُوا، هَلْ سَمِعْتُمْ أَنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ؟ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الحَوْضَ،َ»
"Dengarkanlah, apakah kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku akan ada para pemimpin?
Siapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan menyokong kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku, aku juga bukan golongannya. Dia juga tak akan menemuiku di telaga."
Catatan : Tidak perlu heran, karena mungkin Anda kurang membaca atau mendengar kajian.
_____________
Teks Tulisan :
Hai muslim, tahukah kamu apa itu telaga Nabi ﷺ?
Setiap Nabi memiliki telaga, dan mereka berbangga dengan banyak pengikutnya yang akan singgah padanya.
Telaga Rasul kita Muhammad ﷺ adalah paling ramai.
Padanya ada gelas yang jumlahnya seperti bintang di langit.
Siapa yang meminum darinya tak akan haus selamanya.
Telaga ini terletak di padang Mahsyar sebelum para hamba melewati shirath.
Airnya mengalir dari sungai / telaga Kautsar yang ada di Jannah.
Namun sayang, ada umat Nabi ﷺ yang akan diharamkan dan diusir dari telaganya.
Tahukah kamu siapa mereka?
Akan ada pemimpin-pemimpin pandai berdusta dan menzalimi rakyatnya.
Siapa yang;
1. Berkawan dengan mereka
2. Selalu membenarkan keputusan pemerintah, meski dengan modal dusta
3. Menyokong mereka menzalimi rakyat
Catatan : Bila yang dimaksud dengan berkawan adalah mendukung kezhaliman penguasa muslim, maka itu adalah hal yang diharamkan. Bila yang dimaksud dengan berkawan adalah menyampaikan nasehat kepada mereka tanpa terang-terangan dan mengumbar aib, maka itulah yang diperintahkan oleh Nabi.
Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ
“Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa maka jangan ia tampakkan terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri dengannya. Jika dengan itu, ia menerima (nasihat) darinya maka itulah (yang diinginkan, red.) dan jika tidak menerima maka ia (yang menasihati) telah melaksanakan kewajibannya.” (Sahih, HR. Ahmad, Ibnu Abu ‘Ashim dan yang lain, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah, no. 1096—1098)
Adapun tetap ta'at kepada penguasa dalam hal ma'ruf dan tidak memberontak mereka, maka itu hal yang wajib.
Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda :
اسمع وأطع ، وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك
"Dengarkan dan ta'atilah pemimpinmu, meski punggungmu dipukul dan hartamu diambil (secara zhalim" (HR. Muslim)
______________
Teks Tulisan :
Rasulullah ﷺ mengancam mereka;
1. Mereka tidak diakui sebagai pengikut Rasul ﷺ. Meskipun mereka merasa diri sebagai pengikut Sunnah / Salaf.
Catatan : nampaknya sedikit terkuak, untuk siapa tulisan ini dibuat. WaLlahu A'lam
_____________
Teks Tulisan :
2. Rasul ﷺ tidak sudi dianggap oleh mereka. Wa Lastu Minhu
3. Mereka diusir dari telaga Nabi ﷺ.
Wahai Ulama...
Wahai Ustadz...
Wahai Muslim...
Ittaqullah...
Kamu merasa di atas Sunah Rasul ﷺ, padahal beliau tidak akui. Karena kamu selalu membela penguasa zalim.
Catatan : bertaqwalah Anda,,, kita harus mengkuti ajaran Nabi dalam menasehati penguasa bila kita ingin dianggap sebagai pengikut Beliau, yaitu dengan nasehat sembunyi-sembunyi tanpa mengumbar ke khalayak. Bertaqwalah,, karena kita diperintahkan oleh Nabi untuk tidak memberontak kepada penguasa muslim. Dan sikap seperti itu janganlah diartikan sebagai perbuatan "selalu membela penguasa zalim", karena yang kita bela adalah perintah Nabi dan petunjuk Beliau shallaLlahu 'alaihi wasallam.
______________
Teks Tulisan :
Densus 88 yang menghalalkan darah kaum muslimin, tidak kamu ingkari. Justeru kamu katakan sebagai mujtahid?
Catatan : kami tidak perlu repot untuk menjawab, cuma ingin mengajak berpikir sejenak. Bila ada seorang muslim yang merampok dan berbuat kerusakan di muka bumi kemudian dihukum mati oleh penguasa, apakah akan Anda katakan bahwa penguasa itu menghalakan darah kaum muslimin? Bukankah memang itu hukum yang seharusnya?!
Lalu kenapa Anda menuduh densus menghalalkan darah kaum muslimin?! Padahal mereka menangkap para teroris atau menembak diantara mereka yang melakukan perlawanan, bukankah kerusakan tindakan terorisme itu lebih buruk daripada perampokan dan pembunuhan?!
_____________
Teks Tulisan :
Subhanallah...
Dan ternyata fatwamu hingga saat ini belum kamu cabut.
Kapan kamu bertaubat?
Catatan : SubhanaLLAH, Anda belum juga kapok membela gerakan terorisme, entah sadar atau tidak sadar, langsung atau tidak langsung. Kapan Anda bertaubat?
________________
Teks Tulisan :
Hai kalian para tokoh agama, kalian datangkan dan sambut tokoh Yordania untuk membela BNPT, hanya untuk memata-matai kaum muslimin?
Catatan : Yang Anda maksud adalah Syaikh Ali Hasan al Halabi murid kesayangan Syaikh al Albani yang tahshih haditsnya Anda nukil dalam tulisan ini. Memata-matai terhadap orang-orang yang sekiranya ditakutkan kejahatannya semisal terorisme maka itu diperbolehkan bahkan harus, untuk mencegah madhorot. Simaklah perkataan Imam Nawawi berikut :
وقال أقضى القضاة الماوردي: ليس للمحتسب أن يبحث عما لم يظهر من المحرمات، فإن غلب على الظن استسرار قوم بها لأمارة وآثار ظهرت فذلك ضربان أحدهما أن يكون ذلك في انتهاك حرمة يفوت استدراكها مثل أن يخبره من يثق بصدقه أن رجلا خلا برجل ليقتله أو بامرأة ليزني بها فيجوز له في مثل هذا الحال أن يتجسس ويقدم على الكشف والبحث حذرا من فوات ما لا يستدرك،
Telah berkata al Imam al Qhadhi al Mawardi: "Petugas amar ma'ruf nahi munkar tidak memiliki hak nahi munkar atas perbuatan haram yang tidak nampak. Namum apabila ada sangkaan kuat -berdasarkan tanda atau jejak- bahwa ada orang yang secara sembunyi-sembunyi melakukan keharaman, maka ada dua jenis kasus: Yang pertama adalah keharaman yang sifatnya melanggar kehormatan dan tidak dapat dipulihkan seandainya terlanjur terjadi, misalnya, ada berita dari orang yang terpercaya bahwa seseorang hendak membunuh orang lain atau menyendiri bersama perempuan untuk menzinainya maka kasus seperti ini boleh untuk dimata-matai dan diungkap untuk mencegah hal yang tidak dinginkan atau tidak dapat dipulihkan." (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, kitabul Iman, bab annan nahya anil munkari minal iman wa annal iman yazid wa yanqush, hadits no. 49)
Maka terlebih lagi kasus terorisme, selayaknya dan seharusnya dicegah, karena dampaknya yang sangat merusak dan menodai Islam.
_______________
Teks Tulisan :
Hai para Kyai, kalian terima harta pemerintah, bahkan dari orang jelas Kafir, lantas membenarkan setiap kezaliman mereka, lalu ikut menyerang kaum muslimin lainnya.
Hai kalian yang dianggap Ulama, kalian dukung partai-partai penista agama, apakah karena mereka berkuasa? Lalu kalian takut?
Hai handai taulan agama, kamu bela kemaksiatan yang jelas kedurhakaan kepada Allah, kamu bela LGBT, hanya untuk membenarkan mereka yang berkuasa?
Kalian yang mengatakan pemerintah sebagai Ulil Amri yang wajib ditaati 100 %, tidak boleh dikritik, bahkan kadang kalian ikut membela mereka. Perhatikanlah hadits itu!
Catatan : alhamduliLlah salafiyun tidaklah mentaati ulil amri 100% dalam artian semua perintah ulil amri baik yang ma'ruf maupun yang munkar ditaati, tidaklah salafiyun bersikap seperti itu, karena ketaatan adalah dalam hal ma'ruf saja. Tapi bukan berarti ketika penguasa memerintahkan kepada hal munkar lantas kita memberontak mereka. Hendaknya kita dapat membedakan antara masalah tidak mentaati perintah munkar ulil amri dengan masalah memberontak ulil amri yang memerintahkan kemungkaran.
Cara menasehati penguasa telah dijelaskan oleh Nabi shallaLlahu alaihi wasallam dan telah kami nukilkan haditsnya, silahkan dibaca kembali, maka perhatikanlah hadits itu!
_________________
Teks Tulisan :
Mengawali hadits di atas Rasul ﷺ bersabda Isma'uu (Dengarkanlah). Seolah beliau mengingatkan kita untuk waspada.
Namun mereka yang jujur dan ikhlas membela agama, Rasul ﷺ berjanji untuk mereka;
وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الحَوْض
"Siapa yang tidak masuk kepada mereka, tidak menyokong kezaliman mereka, tidak membenarkan kedustaan mereka, maka dialah golonganku, dan akupun golongannya. Dan ia akan menemuiku di telaga."
HR. Tirmidzi, no. 2259. Dishahihkan Syaikh Al Albani.
Catatan : Hendaknya kita tetap mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh Rasul dan para sahabat Beliau, hendaknya kita mengkaji kitab-kitab aqidah para ulama' ahlus sunnah yang di dalam nya dijelaskan sikap yang seharusnya terhadap penguasa muslim, seperti kitab syarhus sunnah karya al Imam al Barbahari, asy Syariah karya al Ajurri, dan kitab-kitab lainnya karya para ulama' sunnah.
________________
Teks Tulisan :
Semoga tulisan ini mengingatkan siapa saja yang membacanya.
Kita memohon kepada Allah ikhlas dalam setiap ucap dan amal.
Allahumma taqabbal
Catatan : Semoga catatan ini mengingatkan siapa saja yang membacanya, kita memohon hidayah dan taufiq kepada Allah, agar senantiasa istiqomah di atas jalan para salafus sholeh, dijauhkan dari orang-orang yang menyimpang dari jalan mereka.
_______________
Teks Tulisan :
NB:
Saya tidak menghalalkan tulisan ini ditambah dan dikurang.
Jazakumullohu Khoiron
Catatan : alhamduliLLAH dalam catatan ini, kami tidak menambah atau mengurangi tulisan asli penulis, kecuali sensor nama penulis, demi kebaikan beliau dan kaum muslimin.
JazakumuLLOH khoiro
Akhukum fiLlah
Muhammad al Umari