Catatan Muhammad bin Badr al Umari

Rabu, 05 Februari 2020

Tetap Beramal Walau Tidak Diakui

Muhammad al Umari

Dengarlah tentang seorang tabi'in yang mulia, Ayub ash Shikhtiyani rahimahuLlah, seringkali hadits-hadits yang beliau sampaikan kepada manusia dalam suatu majelis menggetarkan hatinya, membangkitkan haru dalam relungnya, sehingga meneteslah air mata, yang tak kuasa ia menahan. Namun, tidaklah tangisan itu ia manfaatkan sebagai kesempatan pamer kekhusyukan, kelembutan hati, maupun keshalihan. Justru sebaliknya, sekuat tenaga dengan terisak ia sembunyikan tangisan itu, seraya berkata, "Pilek ini sangat menyiksaku."

Bagi seorang mukmin, tidak masalah bila amalannya diingkari manusia, ia tak butuh pengakuan, karena pengakuan manusia tidaklah mendatangkan manfaat apapun kecuali sekedar rasa takjub dan pujian orang yang ia tidak dapat menikmati rasa dan wujudnya. Sedangkan sesuatu yang tak berwujud dan tak berasa adalah kesemuan, dan sesuatu yang semu tak pantas untuk dicari atau diperjuangkan, bahkan selayaknya dihindari.

Karena itu tetap berjuanglah, beramallah, meskipun tak ada satupun manusia yang melihatmu, walau mereka tak mengakuimu, karena pengakuan mereka tak berarti apa-apa. Dan bila Anda telah berjuang namun mereka mengingkari usaha Anda, maka tak perlu bersedih, bahkan berbahagialah, karena Anda tak perlu repot-repot menyembunyikan amalan, dan yakinlah Allah Maha Tahu.
وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Mujadilah : 11)

-------«»-------


ikuti akun instagram Muhammad al Umari
http://instagram.com/CatatanPribadiMAU

Channel telegram:
http://t.me/cpMAU

Minggu, 26 Mei 2019

Mencari Lailatul Qadar di Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan

Tidak ada salahnya bila kita bersungguh-sungguh mencari malam Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan, baik malam ganjil maupun genap, karena Rasul shallaLlahu 'alaihi wasallam bersungguh-sungguh dalam beribadah di hari-hari tersebut. Dan kiranya hadits berikut dapat berfaedah bagi kita :

عن ابن عباس - رضي الله عنه - : أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :
« التمسوها في العشر الأواخر من رمضان ليلة القدر في تاسعة تبقى ، في سابعة تبقى ، في خامسة تبقى »

Dari Ibnu Abbas radhiyaLlahu 'anhu, bahwa Nabi shallaLlahu 'alaihi wasallam telah bersabda : "Carilah Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, Lailatul Qadr itu pada sembilan hari yang tersisa, tujuh hari yang tersisa, atau lima hari yang tersisa."
(HR. Bukhari)

Faedah : hadits ini menunjukkan bahwa letak Lailatul Qadr tidak dihitung pada malam ke 21, 23, 25, dst, tapi pada malam 9 hari yang tersisa di bulan Ramadhan, tujuh hari tersisa, lima hari tersisa. Sehingga, seandainya bulan Ramadhan jumlah harinya 30, maka 9 hari tersisa adalah malam 22, 7 hari tersisa adalah malam 24, 5 hari tersisa adalah malam 26, dan seterusnya.
Namun, apabila Bulan Ramadhan jumlah harinya 29 hari, maka 9 hari tersisa adalah malam 21, 7 hari tersisa adalah malam 23, 5 hari tersisa adalah malam 25, dan seterusnya. Hal ini diungkapkan oleh Imam ath Thibiy dan dinukil dalam Mir'aatul Mafaatiih Syarah Misykaatul Mashoobiih no. 2105

وقال الطيبي: قوله في"تاسعة" تبقى الليلة الثانية والعشرون تاسعة من الأعداد الباقية، والرابعة والعشرون سابعة منها، والسادسة والعشرون خامسة منها-انتهى. وهذا مبنى على كون الشهر ثلاثين يوماً، وعلى كون العدد من آخره فتكون الليالي الثلاثة كلها إشفاعاً لا أوتاراً، ويكون معنى الحديث التمسوها في ليلة تاسعة من الليالي الباقية، ويؤيد هذا ما رواه مسلم وأبوداود عن أبي نضرة عن أبي سعيد التمسوها في التاسعة والسابعة والخامسة. قال قلت يا أبا سعيد إنكم اعلم بالعدد منا قال أجل نحن أحق بذلك منكم، قال قلت ما التاسعة والسابعة والخامسة، قال إذا مضت واحدة وعشرون فالتي تليها ثنتين وعشرين فهي التاسعة، فإذا مضى ثلاث وعشرون فالتي تليها السابعة، فإذا مضى خمس وعشرون فالتي تليها الخامسة-انتهى.

Maka dari itu, untuk lebih berhati-hati, carilah malam Lailatul Qadr disetiap malam baik yang ganjil maupun yang genap.

WaLlahu A'lam.


Muhammad al Umari
19 Ramadhan 1440

Selasa, 03 April 2018

Aku Tahu Satu Hal

Aku tak tahu, apa maumu
Terdengar sumbang lisanmu
Teramat parau
Layaknya penyihir mengundang sekutu

Aku tak tahu, kenapa kau tak paham
Betapa mulianya syariat Islam
Agama pengobar jihad membara
Menghantar negerimu menuju merdeka

Aku tak tahu, apa maksudnya
Jilbab cadar kau bawa-bawa
Dengan sebutan hina dina
Hinalah sendiri, ubanmu yang tampak menyala

Aku tak tahu, kenapa gerangan
Kau memaki suara adzan
Alunan merdu pengusir setan
Mungkinkah dengannya engkau berteman?

Tapi aku tahu, kemana kita akan pergi
Setelah kematian datang menghampiri
Bukan kepada moyang kita kembali
Tapi kepada Allah Yang Mengadili


Muhammad al Umari
Rajab 1439 H

Rabu, 14 Maret 2018

Hati - Hati Terhadap Isu Politik

Muhammad al Umari


Dahulu, ayah saya didatangi beberapa orang, diajak ngobrol secara rahasia, dijelaskan kepada beliau bahwa PKI bangkit dan mengancam umat Islam, sedangkan pemerintah saat itu diklaim oleh mereka tidak mampu membendung kebangkitan komunis dan terkesan diam.

Akhirnya, ayah saya ikut rapat rahasia dengan jumlah peserta yang lebih banyak di beberapa kota, dan telah dibentuk gerakan dengan tujuan untuk menghadapi komunis, serta membangunkan umat Islam dari tidur pulas agar mereka melek dan sadar tentang kondisi kebangkitan komunis, saat itu ada beberapa media kondang yang juga memberitakan geliat komunis di Indonesia, berita itulah yang digunakan sebagai kampanye membangunkan umat Islam dari "tidur" pulas, ya, media ternama, tidak seperti berita hoax dari situs abal-abal saat ini yang umat Islam begitu saja mudah percaya, padahal banyak pemalsuan photo dan berita.

Setelah sekian lama, fungsi gerakan tersebut mulai berbelok arah, yang semula untuk membendung komunis, berubah menjadi gerakan persiapan kudeta terhadap pemerintah, karena mereka mengklaim bahwa pemerintah pro kumunis karena terkesan diam.

Rapat-rapat rahasia kembali diadakan, dan disitulah doktrin radikal ditancapkan, kudeta pun dipersiapkan.

Tidak lama kemudian, semua anggota gerakan tersebut ditangkap, termasuk ayah saya, ternyata anggotanya dari berbagai kalangan, ada wiraswasta, pegawai swasta, pengangguran, pegawai negeri sipil, pensiunan tentara, banyak diantara mereka yang tertangkap karena ikut gerakan tersebut, dan tidak sedikit dari mereka yang baru ikut pertemuan rahasia sekali atau dua kali, semua diciduk. Dan pemerintah menamai gerakan tersebut sebagai gerakan Komando Jihad. Ayah saya dikenai hukuman 5 tahun penjara, kawan-kawan beliau ada yang dapat hukuman lebih atau kurang dari itu.

Dari situlah, ayah saya menyimpulkan bahwa gerakan semacam itu hanyalah jebakan untuk sebagian umat Islam yang memiliki semangat tinggi tanpa dibarengi dengan ilmu dan kelembutan. Gerakan yang hanya berdampak buruk bagi Islam dan kaum muslimin, merusak citra Islam dan ketentraman. Beliau selalu mewanti-wanti agar pemuda Islam jangan sampai terjebak dalam kubang yang sama.

Saat ini, nampaknya jebakan itu dipasang lagi, beberapa waktu lalu, di tahun 2018 Masehi ini, kawan saya didatangi orang untuk membicarakan kondisi genting mengancam kaum muslimin yang disebabkan oleh rezim Presiden kita saat ini, terutama ancaman terhadap dakwah sunnah, begitu katanya. Dia minta tempat steril untuk membicarakan kondisi genting tersebut, entah ruangan yang tidak dapat didengar orang lain, atau ngobrol di mobil. AlhamduliLLAH kawan saya menolak hal itu. Ada beberapa orang lain juga yang didatangi.

Dalam hal ini, saya teringat ucapan Umar bin Abdul Aziz rahimahuLLAH :

إذا رأيت قوما يتناجون في أمر دينهم دون العامة فاعلم أنهم على تأسيس ضلاللة

"Bila engkau melihat suatu kaum yang membicarakan perkara agama mereka secara rahasia, maka ketahuilah bahwa mereka sedang membangun kesesatan" (Syarah Ushul I'tiqod Ahlissunnah wal Jama'ah, al Imam al Lalika'i, 1/135 no. 251)

Berhati-hatilah saudaraku, di jaman yang banyak fitnah seperti saat ini, perbanyaklah membaca al Qur'an, rajinlah menghadiri kajian sunnah, bukan kajian konfrontasi, bukan kajian politik praktis. Keselamatan itu tiada duanya.

Berhati-hatilah terhadap berita hoax yang diviralkan di media sosial, banyak sekali photo palsu editan dan situs abal-abal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dan berharaplah Anda menghadap kepada Allah dalam keadaan bersih dari fitnah dan tidak membahayakan keselamatan kaum muslimin karena semangat tanpa ilmu yang Anda miliki.


Jumat, 23 Februari 2018

Beda Politik Praktis vs Politik Syar'i

Muhammad al Umari

Politik Praktis : bila yang menang dari kubu kawan, dibela mati-matian. Bila yang menang dari kubu rival, dihabisi, dicari kesalahan-kesalahannya sekecil apapun.

Politik Syar'i : mendengar dan taatlah dalam perkara ma'ruf, selalu doakan kebaikan untuk pemimpin. Baiknya pemimpin adalah baiknya ummat. Allah Maha Mampu untuk merubah hati pemimpin yang jahat menjadi baik, sebagaimana Allah Maha Mampu memberi hidayah kepada kita yang sebelumya berada dalam kesesatan.

Dan semua akan kembali kepada Allah, dan Allah akan mengadili atas perselisihan kita.

Senin, 12 Februari 2018

Ustadz Besar, Ustadz Kecil

Muhammad al Umari

BismiLLAH.
Terinspirasi dari status kawan

Para santri belajar di ponpes, pengajarnya hanya ustadz-ustadz kecil yang tidak terkenal, fasilitas yang biasa saja bahkan kurang memadai. Tapi, lihatlah, betapa banyak dari mereka menjadi da'i, tak jarang menjadi ustadz besar.

Masyarakat, banyak dari mereka yang hanya mau diajar oleh ustadz besar, yang terkenal, pakai fasilitas ini itu, bahkan banyak yang meremehkan ustadz kecil, memandang sebelah mata. Ustadz kecil mengaji kitab, rutin, dianggap tidak ada, tidak ada apa-apanya. Tapi, hitunglah, berapa dari mereka yang menjadi da'i, ahli ilmu, atau ustadz besar?!

Yang membedakan hanyalah ketulusan Anda, kesabaran dan ketekunan.

BarokaLLAHU fiikum

Selasa, 06 Februari 2018

CATATAN TERHADAP TULISAN "Rasul ﷺ Tidak Mengakui Mereka (Surat kepada para tokoh)

Muhammad al Umari

CATATAN TERHADAP TULISAN "Rasul ﷺ Tidak Mengakui Mereka (Surat kepada para tokoh) Oleh: ..... ..... ..... (tidak perlu disebutkan nama)"
-----

Teks Tulisan :
Saya heran mengapa hadits ini jarang dibahas, atau hampir-hampir tak terdengar. Ataukah mungkin kita yang lalai?
Rasulullah ﷺ bersabda;
«اسْمَعُوا، هَلْ سَمِعْتُمْ أَنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ؟ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الحَوْضَ،َ»
"Dengarkanlah, apakah kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku akan ada para pemimpin?
Siapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan menyokong kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku, aku juga bukan golongannya. Dia juga tak akan menemuiku di telaga."

Catatan : Tidak perlu heran, karena mungkin Anda kurang membaca atau mendengar kajian.

_____________

Teks Tulisan :
Hai muslim, tahukah kamu apa itu telaga Nabi ﷺ?
Setiap Nabi memiliki telaga, dan mereka berbangga dengan banyak pengikutnya yang akan singgah padanya.
Telaga Rasul kita Muhammad ﷺ adalah paling ramai.
Padanya ada gelas yang jumlahnya seperti bintang di langit.
Siapa yang meminum darinya tak akan haus selamanya.
Telaga ini terletak di padang Mahsyar sebelum para hamba melewati shirath.
Airnya mengalir dari sungai / telaga Kautsar yang ada di Jannah.
Namun sayang, ada umat Nabi ﷺ yang akan diharamkan dan diusir dari telaganya.
Tahukah kamu siapa mereka?
Akan ada pemimpin-pemimpin pandai berdusta dan menzalimi rakyatnya.
Siapa yang;
1. Berkawan dengan mereka
2. Selalu membenarkan keputusan pemerintah, meski dengan modal dusta
3. Menyokong mereka menzalimi rakyat

Catatan : Bila yang dimaksud dengan berkawan adalah mendukung kezhaliman penguasa muslim, maka itu adalah hal yang diharamkan. Bila yang dimaksud dengan berkawan adalah menyampaikan nasehat kepada mereka tanpa terang-terangan dan mengumbar aib, maka itulah yang diperintahkan oleh Nabi.
Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa maka jangan ia tampakkan terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri dengannya. Jika dengan itu, ia menerima (nasihat) darinya maka itulah (yang diinginkan, red.) dan jika tidak menerima maka ia (yang menasihati) telah melaksanakan kewajibannya.” (Sahih, HR. Ahmad, Ibnu Abu ‘Ashim dan yang lain, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah, no. 1096—1098)
Adapun tetap ta'at kepada penguasa dalam hal ma'ruf dan tidak memberontak mereka, maka itu hal yang wajib.
Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda :
 اسمع وأطع ، وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك
"Dengarkan dan ta'atilah pemimpinmu, meski punggungmu dipukul dan hartamu diambil (secara zhalim" (HR. Muslim)

______________

Teks Tulisan :
Rasulullah ﷺ mengancam mereka;
1. Mereka tidak diakui sebagai pengikut Rasul ﷺ. Meskipun mereka merasa diri sebagai pengikut Sunnah / Salaf.
Catatan : nampaknya sedikit terkuak, untuk siapa tulisan ini dibuat. WaLlahu A'lam

_____________

Teks Tulisan :
2. Rasul ﷺ tidak sudi dianggap oleh mereka. Wa Lastu Minhu
3. Mereka diusir dari telaga Nabi ﷺ.
Wahai Ulama...
Wahai Ustadz...
Wahai Muslim...
Ittaqullah...
Kamu merasa di atas Sunah Rasul ﷺ, padahal beliau tidak akui. Karena kamu selalu membela penguasa zalim.

Catatan : bertaqwalah Anda,,, kita harus mengkuti ajaran Nabi dalam menasehati penguasa bila kita ingin dianggap sebagai pengikut Beliau, yaitu dengan nasehat sembunyi-sembunyi tanpa mengumbar ke khalayak. Bertaqwalah,, karena kita diperintahkan oleh Nabi untuk tidak memberontak kepada penguasa muslim. Dan sikap seperti itu janganlah diartikan sebagai perbuatan "selalu membela penguasa zalim", karena yang kita bela adalah perintah Nabi dan petunjuk Beliau shallaLlahu 'alaihi wasallam.

______________

Teks Tulisan :
Densus 88 yang menghalalkan darah kaum muslimin, tidak kamu ingkari. Justeru kamu katakan sebagai mujtahid?

Catatan : kami tidak perlu repot untuk menjawab, cuma ingin mengajak berpikir sejenak. Bila ada seorang muslim yang merampok dan berbuat kerusakan di muka bumi kemudian dihukum mati oleh penguasa, apakah akan Anda katakan bahwa penguasa itu menghalakan darah kaum muslimin? Bukankah memang itu hukum yang seharusnya?!
Lalu kenapa Anda menuduh densus menghalalkan darah kaum muslimin?! Padahal mereka menangkap para teroris atau menembak diantara mereka yang melakukan perlawanan, bukankah kerusakan tindakan terorisme itu lebih buruk daripada perampokan dan pembunuhan?!

_____________

Teks Tulisan :
Subhanallah...
Dan ternyata fatwamu hingga saat ini belum kamu cabut.
Kapan kamu bertaubat?

Catatan : SubhanaLLAH, Anda belum juga kapok membela gerakan terorisme, entah sadar atau tidak sadar, langsung atau tidak langsung. Kapan Anda bertaubat?

________________

Teks Tulisan :
Hai kalian para tokoh agama, kalian datangkan dan sambut tokoh Yordania untuk membela BNPT, hanya untuk memata-matai kaum muslimin?

Catatan : Yang Anda maksud adalah Syaikh Ali Hasan al Halabi murid kesayangan Syaikh al Albani yang tahshih haditsnya Anda nukil dalam tulisan ini. Memata-matai terhadap orang-orang yang sekiranya ditakutkan kejahatannya semisal terorisme maka itu diperbolehkan bahkan harus, untuk mencegah madhorot. Simaklah perkataan Imam Nawawi berikut :
وقال أقضى القضاة الماوردي: ليس للمحتسب أن يبحث عما لم يظهر من المحرمات، فإن غلب على الظن استسرار قوم بها لأمارة وآثار ظهرت فذلك ضربان أحدهما أن يكون ذلك في انتهاك حرمة يفوت استدراكها مثل أن يخبره من يثق بصدقه أن رجلا خلا برجل ليقتله أو بامرأة ليزني بها فيجوز له في مثل هذا الحال أن يتجسس ويقدم على الكشف والبحث حذرا من فوات ما لا يستدرك،
Telah berkata al Imam al Qhadhi al Mawardi: "Petugas amar ma'ruf nahi munkar tidak memiliki hak nahi munkar atas perbuatan haram yang tidak nampak. Namum apabila ada sangkaan kuat -berdasarkan tanda atau jejak- bahwa ada orang yang secara sembunyi-sembunyi melakukan keharaman, maka ada dua jenis kasus: Yang pertama adalah keharaman yang sifatnya melanggar kehormatan dan tidak dapat dipulihkan seandainya terlanjur terjadi, misalnya, ada berita dari orang yang terpercaya bahwa seseorang hendak membunuh orang lain atau menyendiri bersama perempuan untuk menzinainya maka kasus seperti ini boleh untuk dimata-matai dan diungkap untuk mencegah hal yang tidak dinginkan atau tidak dapat dipulihkan." (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, kitabul Iman, bab annan nahya anil munkari minal iman wa annal iman yazid wa yanqush, hadits no. 49)
Maka terlebih lagi kasus terorisme, selayaknya dan seharusnya dicegah, karena dampaknya yang sangat merusak dan menodai Islam.

_______________

Teks Tulisan :
Hai para Kyai, kalian terima harta pemerintah, bahkan dari orang jelas Kafir, lantas membenarkan setiap kezaliman mereka, lalu ikut menyerang kaum muslimin lainnya.
Hai kalian yang dianggap Ulama, kalian dukung partai-partai penista agama, apakah karena mereka berkuasa? Lalu kalian takut?
Hai handai taulan agama, kamu bela kemaksiatan yang jelas kedurhakaan kepada Allah, kamu bela LGBT, hanya untuk membenarkan mereka yang berkuasa?
Kalian yang mengatakan pemerintah sebagai Ulil Amri yang wajib ditaati 100 %, tidak boleh dikritik, bahkan kadang kalian ikut membela mereka. Perhatikanlah hadits itu!

Catatan : alhamduliLlah salafiyun tidaklah mentaati ulil amri 100% dalam artian semua perintah ulil amri baik yang ma'ruf maupun yang munkar ditaati, tidaklah salafiyun bersikap seperti itu, karena ketaatan adalah dalam hal ma'ruf saja. Tapi bukan berarti ketika penguasa memerintahkan kepada hal munkar lantas kita memberontak mereka. Hendaknya kita dapat membedakan antara masalah tidak mentaati perintah munkar ulil amri dengan masalah memberontak ulil amri yang memerintahkan kemungkaran.
Cara menasehati penguasa telah dijelaskan oleh Nabi shallaLlahu alaihi wasallam dan telah kami nukilkan haditsnya, silahkan dibaca kembali, maka perhatikanlah hadits itu!

_________________

Teks Tulisan :
Mengawali hadits di atas Rasul ﷺ bersabda Isma'uu (Dengarkanlah). Seolah beliau mengingatkan kita untuk waspada.
Namun mereka yang jujur dan ikhlas membela agama, Rasul ﷺ berjanji untuk mereka;
وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الحَوْض
"Siapa yang tidak masuk kepada mereka, tidak menyokong kezaliman mereka, tidak membenarkan kedustaan mereka, maka dialah golonganku, dan akupun golongannya. Dan ia akan menemuiku di telaga."
HR. Tirmidzi, no. 2259. Dishahihkan Syaikh Al Albani.

Catatan : Hendaknya kita tetap mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh Rasul dan para sahabat Beliau, hendaknya kita mengkaji kitab-kitab aqidah para ulama' ahlus sunnah yang di dalam nya dijelaskan sikap yang seharusnya terhadap penguasa muslim, seperti kitab syarhus sunnah karya al Imam al Barbahari, asy Syariah karya al Ajurri, dan kitab-kitab lainnya karya para ulama' sunnah.

________________

Teks Tulisan :
Semoga tulisan ini mengingatkan siapa saja yang membacanya.
Kita memohon kepada Allah ikhlas dalam setiap ucap dan amal.
Allahumma taqabbal

Catatan : Semoga catatan ini mengingatkan siapa saja yang membacanya, kita memohon hidayah dan taufiq kepada Allah, agar senantiasa istiqomah di atas jalan para salafus sholeh, dijauhkan dari orang-orang yang menyimpang dari jalan mereka.

_______________

Teks Tulisan :
NB:
Saya tidak menghalalkan tulisan ini ditambah dan dikurang.
Jazakumullohu Khoiron

Catatan : alhamduliLLAH dalam catatan ini, kami tidak menambah atau mengurangi tulisan asli penulis, kecuali sensor nama penulis, demi kebaikan beliau dan kaum muslimin.
JazakumuLLOH khoiro


Akhukum fiLlah

Muhammad al Umari