Catatan Muhammad bin Badr al Umari

Jumat, 02 Agustus 2013

Menggapai Lailatul Qadar (Tafsir Surat Al-Qadr)

Muhammad al Umari


Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa surat Al Qadr merupakan surat Makkiyah, diantaranya ialah Imam Ibnu Katsir dan Imam al Baghowi dalam Tafsir keduanya. Sebagian lainnya berpendapat bahwa surat tersebut merupakan surat Madaniyah, Imam al Khozin berkata dalam Tafsir beliau atau yang dinamakan dengan Lubabut Ta`wil : "Dia (surat Al Qadr) adalah surat Madaniyah, ada pula yang mengatakan Makkiyah. Yang lebih benar adalah pendapat pertama sekaligus merupakan pendapat kebanyakan ulama`. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ia merupakan surat pertama yang diturunkan di Madinah. Surat ini terdiri dari lima ayat, tiga puluh kata, seratus dua belas huruf." (Lubabut Ta`wil 6/464, al Imam al Khozin)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا  بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Q.S. Al Qadr : 1-5)

Allah ta’ala berfirman dalam rangka menjelaskan kemuliaan dan ketinggian Al Qur’an :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan.”

Sebagaimana pula firman-Nya :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” (Q.S. Ad Dukhon : 3)

Allah ta’ala mulai menurunkan Al Qur’an di bulan Ramadhan, pada Lailatul (malam) Qadr [1]. Pada malam itu Dia merahmati para hamba-Nya dengan rahmat yang luas, sampai-sampai para hamba tak sanggup mensyukuri –dengan sempurna- rahmat tersebut.

Malam tersebut dinamakan Lailatul Qadr karena beberapa sebab : 

1.     Pada malam itu ditentukan takdir dalam setahun untuk ajal, rizki, serta ketentuan-ketentuan qodari. 
2.     Keagungan dan kemuliaannya di sisi Allah. Sedangkan keagungan dan kemuliaannya dikarenakan beberapa sebab, yang insyaAllah akan kita uraikan :

A.  Allah ta’ala menurunkan Al Qur’an pada malam tersebut.

            Hal ini sebagaimana firman-Nya :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan.”

Ibnu Abbas radhiAllahu ‘anhu telah berkata : “Allah menurunkan Al Qur’an secara keseluruhan dari lauh mahfuzh ke baitul ‘izzah di langit dunia, kemudian menurunkannya secara berangsur-angsur sesuai kejadian yang ada selama 23 tahun kepada Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wasallam.

B.  Allah mengagungkan namanya dengan menyebutnya tiga kali dalam surat Al Qadr.

            Yaitu dengan firman-Nya:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan.”

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?”

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

C. Ibadah pada malam itu lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadr.
            
Ibnu Jarir telah meriwayatkan -dengan sanadnya- dari Mujahid : “Dahulu ada seorang dari Bani Israil yang shalat malam sampai subuh, di siang hari berjihad hingga sore, dan itu ia lakukan selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan firman-Nya :

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” Ibadah pada satu malam itu lebih baik daripada ibadah laki-laki bani Israil tersebut.
           
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan –dengan sanadnya- dari Mujahid : “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” Maknanya adalah lebih baik daripada seribu bulan yang tidak terdapat lailatul Qadr di dalamnya. Begitu pula yang dikatakan oleh Qatadah, asy Syafi’i, dan lainnya, serta dipilih oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir.

D. Pada malam itu para malaikat turun membawa rahmat, berkah, dan ketenangan.
            
Ibnu Katsir berkata : Firman Allah ta’ala
 
تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.”  Maknanya para malaikat turun pada malam itu dikarenakan banyaknya barokah, mereka turun bersamaan dengan turunnya barokah dan rahmat sebagaimana mereka turun saat dibacakan Al Qur’an, serta mengelilingi halaqah (majelis) dzikir (ilmu), meletakkan sayap-sayap mereka untuk menghormati pencari ilmu yang ikhlas. Adapun ruh yang dimaksud dalam ayat ini adalah Jibril ‘alaihissalam, dan dikatakan pula dia adalah jenis malaikat. (Tafsir Ibnu Katsir dengan sedikit perubahan)

E. Para ahli iman diliputi dengan keamanan dan keselamatan pada malam tersebut.
          
  Mujahid berkata : 

سَلامٌ هِيَ

“Malam itu (penuh) kesejahteraan” maknanya ialah malam itu selamat (dari gangguan syetan-pen), syetan tidak mampu berbuat buruk ataupun mengganggu pada malam itu.
            
Asy Sya’bi berkata :

مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Maknanya malaikat mendoakan keselamatan bagi orang yang beribadah pada malam tersebut sampai terbit fajar. Dan tafsiran ini dikuatkan dengan riwayat Ibnu Jarir dari Abdullah bin Abbas yang membaca ayat ini dengan :

مِنْ كُلِّ امْرِئٍ سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ


“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar bagi setiap orang.”

F. Diampuninya dosa-dosa orang yang beribadah di malam tersebut.
            
Nabi bersabda :

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَاًبا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang beribadah pada malam Lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kapankah Lailatul Qadr Itu?
           
       Mayoritas ulama` mengatakan bahwa malam tersebut ada di malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Berdasarkan sabda Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wasallam :

تحروا ليلة  القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان

“Carilah Lailatul Qadr pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari)

Doa Pada Lailatul Qadr
            
     Dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut, terlebih do’a yang diajarkan Nabi kepada Aisyah radhiAllahu ‘anha :

اللَّـهُـمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُـحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, suka memberi ampunan, maka ampunilah aku.” (Hadits shahih riwayat at Tirmidzi & Ibnu Majah)

Tanda-tanda Lailatul Qadr
           Diantara tandanya ialah :
1.Cuaca sedang dan udara yang tenang, sebagaimana sabda Nabi :

ليلة طلقة لا حارة و لا باردة تصبح الشمس يومها حمراء ضعيفة

“Dia adalah malam yang indah, tidak panas, tidak dingin, di pagi harinya matahari terbit dengan cahaya merah yang tidak terang.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

2.Ketenangan dan ketentraman hati, yang dibawa oleh para malaikat untuk para hamba, sehingga mereka merasakan kenikmatan dalam ibadah yang tidak mereka dapati di malam-malam lainnya.

3.Pada pagi harinya, matahari terbit dengan sinar yang tidak menyengat. Ubay bin Ka’b meriwayatkan :

أخبرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم  أن الشمس تطلع من ذلك اليوم لا شعاع لها

“Rasulullah saw telah memberitahukan kita bahwa matahari terbit pada hari itu tidak bercahaya (sinarnya tidak menyengat).” (HR. Muslim)

Dan juga sabda Beliau :

تصبح الشمس يومها حمراء ضعيفة

“…di pagi harinya matahari terbit dengan cahaya merah yang tidak terang.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

END NOTE :
[1] Maksud di sini ialah menurunkan Al Qur’an secara keseluruhan di Baitul ‘Izzah, di langit dunia.

Maroji’ :
Tafsir Ibnu Katsir, al Hafizh Ibnu Katsir, jilid 4. Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Cet 3.
Taisirul Karimir Rahman / Tafsir as Sa’di, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di. Dar Ibnu Hazm, Beirut, Cet 1, 1424 H.
Ushul fit Tafsir, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin. Al Maktabah al Islamiyah, Cet 1, 1422 H.
Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal as Sayyid Salim, jilid 2. Al Maktabah at Taufiqiyah, Kairo.
Lubabut Ta`wil, al Imam 'Ala`uddin Ali bin Muhammad al Baghdadi al Khozin. Dicetak bersama Tafsir al Baghowi. Darul Kutub, Lebanon, 1415 H