Catatan Muhammad bin Badr al Umari

Selasa, 16 Juli 2013

Dhu'afa, Tanggung Jawab Siapa?

Muhammad bin Badr al Umari


Tidak terasa sudah hampir setengah jam saya naik bis, udara semakin dingin, jalanan semakin sepi, jam di HP menunjuk angka sebelas. Malam itu saya dalam perjalanan pulang dari majelis Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifulloh, setelah siangnya mengajar di ma’had.

Bis pun berhenti di terminal, perlahan saya turun dan berjalan keluar dari terminal, melewati trotoar, berharap langkah-langkah kaki saya dapat mengantar tubuh ini sampai ke rumah dengan segera, demi melepas lelah.

Sesaat pandangan saya tertuju pada dua gelandangan paruh baya yang tidur di emperan toko, sesaat berlalu pandangan saya alihkan kepada yang lain. Namun, pandangan saya terpaksa kembali tertuju kepada dua gelandangan itu lagi setelah terdengar suara tangisan bayi dari arah mereka. Saya pun tersentak, balita berusia lebih kurang satu setengah tahun bangun dari tidurnya, diantara dua gelandangan itu. Dia duduk sambil menangis, saya pun tak dapat menahan rasa iba, anak sekecil itu harus tidur di emperan toko, tanpa alas kecuali hanya selembar kardus makanan ringan, melawan dinginnya malam. Tidak berhenti sampai di situ, semakin tersentak diri saya setelah tahu mengapa bayi itu menangis, dia berteriak, “Laapaar... laapaar..” Air mata tak terasa menetes, saya buka tas dan saku, berharap masih ada uang yang tersisa, ternyata tak sepeser pun. Hati saya benar-benar sakit saat itu, menyesali diri, mengapa saya tak dapat membantu, mengapa saya hanya bisa menangis saja...

Maha Suci Allah yang telah melapangkan rizki dan menyempitkannya. Pada saat yang bersamaan, di sana banyak orang kaya yang tidur nyenyak di atas kasur empuk dengan perut kenyang, di sana banyak pemuda yang menghabiskan uangnya di tempat judi dan bar, di sana banyak pejabat yang sibuk begadang menikmati uang negara. Tidakkah mereka sadar, sesungguhnya di dalam harta mereka ada hak bagi para fakir miskin, anak yatim, para dhu’afa` ??




وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat : 19)

Allah telah berfirman, menggugah hati yang masih memiliki secercah kehidupan :




فَلا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ فَكُّ رَقَبَةٍ أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ
“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir.” (QS. Al-Balad : 11-16)



أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur : 1-8)