Muhammad
bin Badr al Umari
Perbincangan mengenai manakah yang lebih utama antara orang yang sabar dengan orang syukur merupakan pembahasan yang panjang. Setiap kalangan memiliki pendapat tersendiri. Namun, bila sabar dan syukur memiliki kedudukan yang sama dalam keadaan yang berbeda, maka syukur lebih disukai dan utama. Mungkin kisah berikut dapat memberikan wacana.
Perbincangan mengenai manakah yang lebih utama antara orang yang sabar dengan orang syukur merupakan pembahasan yang panjang. Setiap kalangan memiliki pendapat tersendiri. Namun, bila sabar dan syukur memiliki kedudukan yang sama dalam keadaan yang berbeda, maka syukur lebih disukai dan utama. Mungkin kisah berikut dapat memberikan wacana.
Dari Umar bin as-Sakan beliau berkata : Dulu aku pernah berada di sisi Sufyan bin Uyainah, lalu ada seorang laki-laki dari Baghdad menghampirinya seraya bertanya, “Wahai Abu Muhammad, beritahulah aku tentang perkataan Mutharrif : ‘Sungguh bila aku diberi ‘afiyah (keselamatan) kemudian aku bersyukur, itu lebih aku cintai daripada bila aku diberi cobaan kemudian bersabar’
apakah perkataan tersebut yang lebih engkau sukai ataukah perkataan saudara Mutharrif yang bernama Abul ‘Ala` : ‘Ya Allah, aku ridha untuk diriku apa-apa yang Engkau ridhai buatku.’ ?”
Maka Sufyan diam sejenak, kemudian berkata : “Perkataan Mutharrif lebih aku sukai.”
Orang tadi bertanya lagi : “Bagaimana bisa, bukankah Abul ‘Ala` ridha untuk dirinya apa-apa yang diridhai oleh Allah buatnya??”
Maka Sufyan menjawab : “Aku membaca Al-Qur`an, maka aku dapati sifat Sulaiman ‘alaihissalam yang diberi ‘afiyah (keselamatan) :
نِعْمَ
الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ
“Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya
dia amat ta'at (kepada Tuhannya).” (QS. Shad : 30)Dan aku dapati sifat Ayub ‘alaihissalam yang diberi ujian :
إِنَّا
وَجَدْنَاهُ صَابِراً نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ
“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang
yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta'at (kepada
Tuhan-nya).” (QS. Shad : 44)Dua sifat ini sama. Yang satu diberi ‘afiyah, dan satunya lagi diberi cobaan. Aku dapati syukur telah menempati tempatnya sabar. Tatkala keduanya sama, maka ‘afiyah bersama syukur lebih aku sukai daripada cobaan bersama kesabaran.” (Hilyatul Auliya` 7/283) [1]
Maknanya, bila kedudukan syukur dan sabar sama, maka lebih baik mendapat nikmat daripada cobaan. Wallahu a’lam.
END NOTE :
[1] Kami nukilkan dari kitab al Mufadholah Bainal Ghoni asy-Syakir wal Faqir ash-Shobir.
