Catatan Muhammad bin Badr al Umari

Senin, 08 Juli 2013

Berlindung Dari Keburukan Hasad

Muhammad bin Badr al Umari


Hasad ialah tidak ridhonya seseorang bila melihat saudaranya mendapatkan nikmat dari Allah ‘azza wa jalla. Hal itu disebabkan ketidaksenangannya melihat orang lain mengungguli dirinya. Apabila ia melihat saudaranya mengunggulinya, maka ia tidak menyukainya, dan berharap kalau sekiranya saudaranya itu tidak mendapatkan apa yang telah ia dapatkan, atau berharap mendapatkan apa yang saudaranya dapatkan, itu semua agar saudaranya tidak mampu mengunggulinya.

Sebenarnya hasad yang terpendam dalam hati tidaklah tercela, yang tercela ialah apabila ia merealisasikan hasad yang terpendam dalam hatinya dengan ucapan atau perbuatan, karena setiap manusia itu memiliki sifat hasad, ia tidaklah tercela selama tidak mengungkapkan hasadnya dengan ucapan maupun perbuatan. Hasan al Bashri berkata : “Tidaklah ada seorang anak Adam kecuali sungguh Allah telah menciptakan hasad bersamanya.”

Karena itulah Allah ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk berlindung dari kejelekan hasadnya hasid (hasid : orang yang memiliki sifat hasad), bukan berlindung dari hasid, akan tetapi dari kejelekannya, yaitu tatkala ia merealisasikan hasadnya dengan ucapan atau perbuatan. Allah berfirman :
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dan dari kejelekan pendengki bila ia dengki." (QS. Al Falaq : 5)

Silakan merujuk pada kitab Shoidul Khothir 372-373, karya Imam Ibnul Jauzi, cet. Darul Kitab al ‘Arobi.