Catatan Muhammad bin Badr al Umari

Kamis, 06 April 2017

Mengenal Imam Bukhari & Shahihnya

Muhammad al Umari


        Nama Imam Bukhari terlalu masyhur untuk dikenalkan, begitu pula dengan salah satu kitab beliau, Shahih Bukhari. Hampir di setiap perpustakaan ada nama dan kitab beliau, baik dalam bentuk kitab asli maupun terjemahan. Setiap kalangan mengagumi karyanya, mempelajari dan mengambil faedahnya. Al Imam an Nawawi berkata : “Para ulama` telah bersepakat bahwa kitab yang paling shahih setelah Al Qur`an adalah dua kitab Shahih : Shahih Bukhari dan Muslim. Umat telah menerimanya, dan kitab Imam Bukhari lebih shahih, lebih banyak faedah dan ilmu nya baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Sungguh Imam Muslim termasuk orang yang mengambil faedah dari Imam Bukhari, dan mengakui bahwa Bukhari tiada bandingannya dalam ilmu hadits.” (Muqaddimah Syarah Muslim 1/128)

       Meskipun dengan kemasyhuran yang tak terbantahkan, akan tetapi ilmu semakin lama akan dilupakan, tidak terkecuali ulama` dan kitab ini. Karena itulah kami rasa sangat perlu mengulas tentang beliau dan Shahih-nya meskipun secara ringkas, kami sarikan dari kitab Hadyus Saari dan Tadwinus Sunnah, serta beberapa referensi lainnya. Semoga Allah memberikan manfaat dan balasan yang baik.

IMAM BUKHARI

Nama Imam Bukhari
       Beliau bernama Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah al Bukhari. Kun-yah beliau Abu Abdillah.

Kelahiran Beliau
       Beliau dilahirkan di kota Bukhara, yang saat ini tercakup dalam wilayah Negara Uzbekistan, pada hari Jum’at setelah shalat Jum’at 13 Syawal 194 H.

Pertumbuhan Beliau
       Beliau menjadi yatim sejak kecil, sehingga diasuh oleh ibunya. Ayahnya meninggalkan harta yang dapat membantu Ibu nya dalam mengasuh dan mendidiknya dengan baik. Ayah beliau berkata ketika hendak meninggal : “Tidaklah ada dalam hartaku keharaman ataupun syubhat sedirham pun.”

Mencari Ilmu
       Beliau menimba ilmu sejak usia 10 tahun, terlihat jelas kecerdasan dan kekuatan hafalannya. Beliau memulai belajar di kota kelahirannya Bukhara, sebelum akhirnya meninggalkan kota itu untuk mencari ilmu.
Pada usia 16 tahun beliau hafal kitab-kitab Ibnul Mubarak dan Waki’, pada usia itu pula beliau pergi haji bersama saudara dan ibunya. Tatkala ibadah haji telah ditunaikan, ibu dan saudaranya pulang, sedangkan beliau lebih memilih tinggal untuk belajar hadits. Selanjutnya beliau pergi ke Madinah, Syam, Mesir, Naisabur dan kota-kota lainnya untuk mencari hadits. Al Khathib al Baghdadi berkata : “Dalam mencari ilmu (al Bukhari) mendatangi para ahli hadits di seluruh negeri.”(Tarikh Baghdad 2/4, Siyar A’lam Nubala` 13/433)

Kekuatan Hafalan Beliau
       Beliau berkata : “Aku hafal seratus ribu hadits shahih, dan dua ratus ribu hadits yang tidak shahih.” (Tarikh Baghdad 2/24, Hadyus Sari  hal. 681)

       Beliau juga berkata : “Aku mencatat hadits dari seribu syaikh lebih, dari setiap orang syaikh aku mencatat lebih dari sepuluh ribu hadits, dan tidak ada satu hadits pun yang aku miliki melainkan aku sebutkan sanadnya.” (Tarikh Baghdad 2/10, Thabaqat asy Syafi’iyyah 2/222)

       Telah berkata Ahyad bin Abi Ja’far : “Muhammad bin Ismail (al Bukhari) berkata padaku,’Banyak hadits yang aku dengarkan di Bashrah baru aku catat setelah tiba di Syam, banyak hadits yang aku dengarkan di Syam baru aku catat setelah sampai di Mesir.’” (Hadyus Sari hal. 681)

       Ibnu Katsir berkata : “Para ulama` menceritakan bahwa Bukhari melihat kitab sekali saja dan dia langsung hafal, khabar mengenai hal ini sangat banyak.” (al Bidayah wan Nihayah 11/25)

Karya Beliau
       Diantara karya beliau ialah : al Jami’ush Shahih atau dikenal dengan Shahih Bukhari, al Jami’ ash Shaghir, al Jami’ al Kabir, al Adab al Mufrod, Asaamish Shahaabah, Khalqu Af’alil Ibad, dan masih banyak yang lainnya.

Wafat Beliau
       Di akhir hayat, setelah diusir dari negerinya, beliau tinggal di desa Khortank, sebuah desa di Samarkand. Beliau sakit keras dan akhirnya meninggal di tempat tersebut pada malam Sabtu, malam Iedul Fithr, tahun 256 Hijriyyah, dalam usia 62 tahun. Semoga Allah merahmati beliau dan menempatkannya dalam keluasan surga-Nya.



KITAB SHAHIH BUKHARI

       Kitab tersebut masyhur dengan nama Shahih Bukhari, dan nama aslinya sebagaimana yang dinamakan oleh penulisnya sendiri adalah “al Jami’ al Musnad ash Shahih al Mukhtashar min Umuri Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam wa Sunanihi wa Ayyamihi” yang maknanya “Kitab Jami’ Ringkas yang berisi hadits-hadits Musnad dari Perkara Rasulullah, Sunnahnya, dan Kesehariannya.” Dan ada nama lain yang disebutkan mirip dengan nama tersebut.

Hal Yang Mendorong Beliau Menulis Kitab Tersebut
       Ada beberapa sebab yang dianggap menjadi pendorong penulisan kitab tersebut, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Hadyus Saari hal. 8-9 :

1. Beliau menjumpai kitab-kitab hadits yang ditulis pada zamannya mencampurkan antara hadits-hadits shahih, hasan, banyak pula yang dha’if  (lemah), dan tidak dipilah-pilah. Hal itu mendorong beliau menulis kitab yang hanya berisi hadits shahih saja agar orang tidak ragu lagi.

2. Semakin kuat tekad beliau untuk menulisnya ketika guru beliau al Imam Ishaq bin Rahawaih –yang dijuluki sebagai amirul mukminin dalam bidang hadits- mengatakan : “(Alangkah baiknya) bila kalian mengumpulkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu kitab.” Imam Bukhari mengatakan : “(Ucapan tersebut) merasuk dalam hatiku sehingga aku mulai menulis kitab al Jami’ ash Shahih (Shahih Bukhari).”

3. Imam Bukhari mimpi bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam¸mendekat dan mengipasi Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau menanyakannya kepada ahli tafsir mimpi, ahli tersebut menjawab : “Engkau menghilangkan kedustaan yang disandarkan kepada Nabi.” Imam Bukhari mengatakan : “Itulah yang membuatku menulis al Jami’ (Shahih Bukhari).”

Kesungguhan Beliau dalam Memilih Hadits
       Imam Bukhari mengatakan : “Tidaklah aku menulis satu hadits pun dalam kitab Shahih ini melainkan aku dahului dengan mandi dan shalat (istikharah) dua raka’at.” (Hadyus Saari hal. 9)

Beliau berkata : “Aku memilih kitab Shahih ini dari enam ratus ribu hadits.” (Hadyus Saari hal. 9)

Beliau juga berkata : “Tidaklah aku cantumkan dalam kitab ini (Shahih Bukhari) kecuali hadits yang shahih, dan masih lebih banyak lagi hadits shahih yang tidak aku cantumkan (dalam kitab ini).” (Hadyus Saari hal. 9)

Syarat Imam Bukhari dalam Shahih nya
       Untuk menghukumi bahwa suatu hadits dikatakan shahih, ada syarat-syarat yang harus terpenuhi, sebagaimana disebutkan oleh para ulama` hadits (kami sarikan dari kitab an Nukat ‘ala Nuzhatin Nazhar hal. 82-84 dan referensi lainnya) :

1. Dinukil / diriwayatkan oleh para rawi yang ‘adl  : maknanya ialah perawi yang bertaqwa dan menjaga muru`ah (kehormatan), selamat dari kefasikan dan dari hal-hal yang dapat menghilangkan muru`ah. Dan yang dimaksud dengan bertaqwa di sini ialah menjauhi perbuatan buruk seperti kesyirikan, kefasikan, atau bid’ah.

2. Dinukil oleh para rawi yang sempurna dhabth nya : makna dhabth adalah kredibilitas dan ketepatan hadits, adakalanya seorang rawi memiliki dhabth dalam segi kekuatan hafalan atau dari segi ketepatan catatan haditsnya.

3. Sanad yang bersambung : setiap perawi mendengar hadits tersebut secara langsung dari gurunya (perawi di atasnya).

4. Tidak ada ‘illah : ‘illah adalah cacat hadits yang tersembunyi, secara zhahir haditsnya bagus namun ada cacat tersembunyi yang membuatnya menjadi lemah.

5. Tidak syadz : seorang perawi yang tsiqah (terpercaya) apabila dalam riwayatnya menyelisihi perawi yang lebih tsiqah maka haditsnya disebut syadz.

       Adapun Imam Bukhari, beliau memiliki kriteria / syarat lebih untuk menyatakan suatu hadits dikatakan shahih, diantaranya yaitu kepastian bahwa perawi benar-benar mendengar dari gurunya, bukan sekedar dia sezaman dengan gurunya atau sekedar ada kemungkinan bertemu dengan gurunya sebagaimana ini merupakan syarat ulama` lain. (Tadribur Raawi 1/125).

Metode Penulisan Shahih Bukhari
       Imam Bukhari memiliki metode penulisan kitab Shahih nya yang selayaknya dipahami oleh orang yang hendak mempelajari kitab tersebut,kami hanya sebutkan sebagian kecilnya, untuk selengkapnya silahkan merujuk pada kitab Hadyus Saari karya Imam Ibnu Hajar al ‘Asqalani :

1. Beliau hanya mencantumkan hadits-hadits shahih, itulah secara asal.

2. Adapun hadits-hadits marfu’ yang dicantumkan secara mu’allaq (yaitu hadits yang dihilangkan awal sanadnya, baik satu atau dua rawi, atau bahkan sampai akhir sanadnya) maka perlu perincian. Hadits yang disebutkan secara mu’allaq / ta’liq ada dua macam :
    1. Apa yang dicantumkan secara mu’allaq terkadang disebutkan secara maushul di tempat lain dalam Shahih nya, beliau melakukan ini karena ingin meringkas, dan maksud beliau hanyalah mengambil istinbath (kesimpulan) hukum tanpa berpanjang lebar dengan sanad.

    2. Adapun hadits mu’allaq yang tidak disebutkan secara maushul di tempat lain, maka perlu dirinci :
        a. Bila disebutkan dalam bentuk jazm seperti قال “Telah berkata...” maka hadits tersebut shahih sampai kepada rawi yang beliau mu’allaq kan.

        b. Bila disebutkan dalam bentuk tamridh seperti يُذكَر “Disebutkan...” “Diriwayatkan...” maka tidak dapat dipastikan keshahihannya, harus diteliti dahulu, adakalanya shahih dan adakalanya tidak.

3. Beliau juga mencantumkan atsar-atsar mauquf karena beberapa alasan, terkadang untuk menafsirkan ayat, atau menguatkan pendapat yang beliau pilih dalam masalah yang terdapat perselisihan di dalamnya.

4. Terkadang beliau mengulangi penyebutan suatu hadits di tempat (bab) lain dengan sanad yang berbeda untuk mengambil istinbath hukum dan faedah sanad.

5. Terkadang beliau memotong hadits untuk istinbath hukum yang sesuai dengan bab, karena hadits tersebut memiliki banyak kandungan hukum yang perlu dipotong sesuai bab yang dibutuhkan.

6. Beliau menuliskan judul-judul bab yang hakekatnya merupakan istinbath fiqih dari hadits yang beliau cantumkan, dan istinbath fiqih tersebut menunjukkan madzhab beliau.

7. Melalui judul-judul bab itu pula beliau mengeluarkan faedah hadits.

8. Adakalanya istinbath hukum melalui bab dapat langsung diketahui korelasi (hubungan) nya dengan dalil yang beliau sebutkan, terkadang juga tidak dapat diketahui kecuali dengan penelitian yang mendalam.

Jumlah Hadits dalam Shahih Bukhari
       Al Hafizh Ibnu Shalah menyebutkan bahwa bilangan hadits dalam Shahih Bukhari adalah 7.275 bila dihitung beserta hadit-hadits yang diulang pencantumannya. Bila hadits yang diulang tidak dihitung, jumlahnya 4.000 hadits, namun ini termasuk atsar sahabat dan tabi’in serta hadits yang dicantumkan dengan dua sanad yang berbeda.

       Al Imam Ibnu Hajar mengatakan bahwa setelah diteliti, jumlah hadits maushul tanpa pengulangan yang ada dalam Shahih Bukhari adalah 2.602 hadits.

Perhatian Ulama` Terhadap Shahih Bukhari
       Al Imam an Nawawi berkata : “Para ulama` telah bersepakat bahwa kitab yang paling shahih setelah Al Qur`an adalah dua kitab Shahih : Shahih Bukhari dan Muslim. Umat telah menerimanya, dan kitab Imam Bukhari lebih shahih, lebih banyak faedah dan ilmu nya baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Sungguh Imam Muslim termasuk orang yang mengambil faedah dari Imam Bukhari, dan mengakui bahwa Bukhari tiada bandingannya dalam ilmu hadits.”

       Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan : “Al Firabri menyebutkan bahwa yang mendengar (belajar langsung) kitab Shahih Bukhari kepada Imam Bukhari sekitar 70.000 orang.”

       Menurut Syaikh Abdul Gani bin Abdul Khaliq, kitab syarah (penjelasan) dari Shahih Bukhari mencapai 71 judul kitab, sebagian sudah dicetak dan sebagiannya masih dalam bentuk manuskrip. Sedangkan jumlah kitab ta’liq dan ikhtishar mencapai 44 judul kitab, sebagian sudah dicetak dan sebagiannya masih dalam bentuk manuskrip.

Kiat Mempelajari Shahih Bukhari
       Bila Anda memiliki kemampuan membaca kitab, maka ada beberapa kiat dalam mempelajari Shahih Bukhari :
1. Belajar dengan bimbingan guru yang mumpuni.

2. Memahami metode penulisan kitab.

3. Membaca kitab-kitab syarah seperti : Fathul Baari, Irsyadus Saari, ‘Umdatul Qaari, dan lainnya. Syarah terbaik adalah Fathul Baari karya Ibnu Hajar, dan yang paling mudah dalam menjelaskan rijal-rijal nya adalah Irsyadus Saari.

4. Membaca kitab Hadyus Saari karena sangat membantu

5. Mempelajari ilmu musthalah hadits.

Bila Anda tidak memiliki kemampuan membaca kitab maka :
1. Belajar dengan bimbingan guru yang mumpuni.

2. Bila dirasa terlalu sulit, maka pilihlah kitab ringkasan Shahih Bukhari untuk mempersingkat waktu dan mengambil banyak faedah.

3. Bila masih terlalu sulit dan menghendaki buku terjemahan, pilihlah penerbit buku terpercaya dan penerjemah yang kredibel, dan mintalah bimbingan guru yang mumpuni.

Demikianlah sedikit ringkasan yang dapat kami tulis, semoga bermanfaat.


Rujukan :
1. Hadyus Saari Muqaddimatu Fathil Baari, al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani, Cet. Ke 3, Darus Salam Riyadh, KSA.

2. Tadwinus Sunnah an Nabawiyyah, Dr. Muhammad Mathar az Zahrani, Cet. Ke 1, Darul Hijrah, Riyadh, KSA. (Dalam bentuk PDF)

3. Tadriibur Raawi, al Imam Jalaluddin as Suyuthi, Tahqiq : Syaikh Mazin bin Muhammad as Sarsawi, Cet. Ke 3, Dar Ibnul Jauzi, KSA.

4. An Nukat ‘Ala Nuzhatin Nazhar, Syaikh Ali Hasan al Halabi, Cet. Ke 2, Dar Ibnul Jauzi, KSA.

5. An Nukat ‘ala Kitab Ibni Shalah, Ibnu Hajar, Tahqiq wa Dirasah : Syaikh Dr. Rabi’ al Madkhali, Cet. Ke 3, Maktabah al Furqan, UEA.

6. Taisir Mushthalah al Hadits, Syaikh Dr. Mahmud ath Thahhan, Darul Fikr, Beirut.

7. Syarh Shahih Muslim, al Imam an Nawawi, Tahqiq : Dr. Khalil Ma`mun Syiha, Cet. Ke 19, Dar al Ma’rifah, Beirut.

8. At Ta’rif bil Imam al Bukhari, Bilal Musthafa ‘Ulwan, www.alukah.net