Catatan Muhammad bin Badr al Umari

Minggu, 07 Juli 2013

Para Sahabat, Generasi Terbaik

Muhammad bin Badr al Umari


Diantara pokok aqidah yang diyakini oleh ahlus sunnah wal jama'ah dari masa ke masa ialah keyakinan bahwa para sahabat RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam sebagai generasi terbaik umat manusia.

Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid al Atsari hafizhahuLlah berkata : "Dan diantara pokok aqidah salafush sholih ahlus sunnah wal jama'ah ialah mencintai para sahabat RasuluLlah sallallahu 'alaihi wasallam, serta selamatnya hati dan lisan mereka dari (mencela) sahabat. Hal itu dikarenakan para sahabat Nabi ialah orang-orang yang paling sempurna dalam keimanan, kebaikan, serta paling besar perjuangannya dalam ketaatan dan jihad. Sungguh Allah 'azza wajalla telah memilih mereka untuk menemani RasuluLlah, dan mereka telah mencapai kemuliaaan yang tidak dicapai oleh seorangpun setelah mereka bagaimanapun mulianya orang tersebut, yaitu kemuliaan melihat RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam serta hidup bersama beliau." (Al Wajiz fi 'Aqidatis Salafish Sholih Ahlis Sunnah wal Jama'ah )

Al Imam Ibnu Qudamah al Maqdisi (wafat 620 H) berkata : "(Diantara aqidah ahlus sunnah ialah) meyakini kemuliaan dan keterdepanan para sahabat (dalam kebaikan)." (Lum'atul I'tiqod hal.18)

Beliau juga berkata : "Para sahabat RasuluLlah adalah sebaik-baik sahabat seluruh Nabi yang ada." (Lum'atul I'tiqod hal.17)

Al Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H) setelah menjelaskan bahwa sebaik-baik umat setelah Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali radhiaLlahu 'anhum serta lainnya yang beliau sebutkan, beliau berkata : "Kemudian manusia yang paling mulia setelah sahabat-sahabat tersebut -yang telah beliau sebutkan- adalah para sahabat RasuluLlah (secara umum). Yaitu generasi yang RasuluLlah diutus di dalamnya. Setiap orang yang menemani Beliau sallaLlahu 'alaihi wasallam, baik setahun, sebulan, sesaat saja, atau sekadar melihat Beliau[1] maka dia termasuk sahabat Nabi. Dia menjadi sahabat Nabi sesuai kadarnya menemani Beliau. Dia memiliki keterdepanan, mendengar sabda Nabi, dan melihat Beliau dengan mata kepalanya. Maka sahabat yang paling rendah tingkatannya, dia lebih baik daripada generasi yang tidak melihat Beliau, meskipun generasi tersebut menghadap Allah 'azza wajalla dengan membawa seluruh amal. Mereka adalah para sahabat yang menemani Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam, melihatnya, dan mendengar sabdanya. Dan siapa saja yang melihat Beliau walau sesaat dan beriman kepada Beliau, maka dia lebih baik dari generasi tabi'in[2] meskipun mereka mengamalkan seluruh amal kebajikan, hal itu dikarenakan ia adalah seorang sahabat Nabi." (Ushulus Sunnah hal.5-6 no.27)

Al Imam Asy Syafi'i (wafat tahun 204 H) berkata : "Sesungguhnya Allah ta'ala telah memuji sahabat-sahabat RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam baik di dalam Al Qur'an, Taurat, maupun Injil. Dan telah ditetapkan oleh lisan RasuuLlah kemuliaan mereka yang tidak dimiliki orang-orang setelah mereka. Allah telah merahmati dan menyampaikan kabar gembira bagi mereka dengan memberikan kepada mereka derajat tertinggi di kalangan shiddiqin, syuhada', dan sholihin." (Manaqib asy Syafi' 1/442-443, karya al Imam al Baihaqi; Manaqib ar Rozi 136)

Banyak sekali dalil-dalil dari Al Qur'an maupun Al Hadits yang menunjukkan keutamaan mereka atas seluruh generasi umat manusia.


Diantara dalil dari Al Qur’an ialah :
1. Firman Allah ta’ala :
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.S. At Taubah : 100)

Di dalam ayat ini Allah telah memuji para sahabat Muhajirin dan Anshor, menyatakan bahwa Dia ridho kepada mereka, serta menyampaikan kabar gembira berupa surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Ini merupakan pujian dan kabar gembira terindah untuk para sahabat. Adakah cita-cita yang lebih tinggi dari menggapai ridho Allah? Adakah keberuntungan yang lebih baik dari mewarisi surga Allah? Jawabnya adalah tidak. Itulah keutamaan yang tidak dimiliki siapapun selain mereka, keutamaan yang akan tetap abadi, terabadikan dalam kitab yang paling suci, yaitu Al Qur’an.

Adapun orang-orang setelah sahabat -termasuk pula kita-, maka mereka tidak memperoleh pernyataan langsung dari Allah berupa keridhoan dan surga, akan tetapi ridho dan surga Allah akan diperoleh bila mereka mengikuti jalan para sahabat dengan baik, sebagaimana firman Allah di atas “Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.”

Tentulah, orang-orang yang jalannya wajib diikuti menunjukkan bahwa orang-orang tersebut adalah manusia terbaik. Dan mustahil kita akan mau mengikuti jalan para sahabat bila kita tidak menganggap mereka sebagai generasi terbaik.

2. Firman Allah ta’ala :
“(Juga) bagi orang faqir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya, dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (Q.S. Al Hasyr : 8-9)

Di dalam ayat ini Allah telah memuji sahabat Muhajirin bahwa mereka rela meninggalkan rumah dan harta demi mencari karunia Allah, menolong agama Allah, serta Allah memuji mereka sebagai orang-orang yang benar, maksudnya, mereka telah membuktikan perkataan (pengakuan iman) mereka dengan amal perbuatan (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/310.).

Kemudian Allah memuji sahabat Anshor bahwa mereka mencintai sahabat Muhajirin. Dan ini merupakan cinta karena Allah, bukan karena harta, bahkan banyak kaum Muhajirin yang hijrah tanpa membawa harta benda. Sedangkan kita telah tahu bahwa cinta karena Allah merupakan tali iman yang paling kuat, yang menunjukkan sempurnanya iman seseorang. RasuluLlah bersabda :
أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ الْحُبُّ فِى اللَّـهِ وَالْبُغْضُ فِى اللَّـهِ
“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah, dan benci karena Allah.” (HR. Ath Thoyalisi 378, Al Hakim 2/480, Ath Thobroni dalam Al Kabir 10/10531 dan dalam Ash Shoghir 1/223-224. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam takhrij kitab Al Iman karya Ibnu Taimiyah, dan dalam kesempatan lain beliau menghasankannya)

Dan masih banyak lagi pujian Allah terhadap para sahabat dalam ayat ini.

3. Firman Allah ta’ala :
“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al Hadid : 10)

Di dalam ayat ini para sahabat yang berinfaq dan berjihad sebelum penaklukan kota Makkah, Allah meninggikan derajat mereka di atas para sahabat yang berinfaq dan berjihad sesudah penaklukan Makkah. Namun bukan berarti mereka rendah dan tercela. Mereka sama-sama terpuji, hanya saja para sahabat yang berinfaq dan berjihad sebelum penaklukan Makkah lebih mulia. Hal ini terbukti dikarenakan Allah menjanjikan kepada masing-masing pihak dengan Al Husna (balasan yang lebih baik), yaitu surga.

Syaikh Abdur Rohman As Sa’di berkata : “Para sahabat yang masuk Islam, berjihad, dan berinfaq, baik sebelum penaklukan Makkah maupun sesudahnya, semuanya dijanjikan surga oleh Allah. Dan ini menunjukkan keutamaan seluruh sahabat Rasul radhiaLlahu ‘anhum, dimana Allah telah bersaksi atas keimanan mereka dan menjanjikan kepada mereka surga.” (Tafsir As Sa’di hal.802)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menunjukkan keutamaan para sahabat di atas seluruh generasi.

Adapun dalil dari As Sunnah/Al Hadits diantaranya adalah :
1. RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُم

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian setelahnya (tabi’in), kemudian setelahnya (atba’ut tabi’in).” (HR. Bukhori no.2652, Muslim no.2533, dari AbduLlah bin Mas’ud radhiaLlahu ‘anhu)

Hadits ini secara jelas dan tegas telah menunjukkan kepada kita bahwa generasi yang terbaik adalah para sahabat, kemudian tabi’in, kemudian atba’ut tabi’in.

Banyak sekali para sahabat yang meriwayatkan hadits semisal ini, diantaranya adalah Abu Huroiroh, Abdulloh bin Mas’ud, An Nu’man bin Basyir, Imron bin Hushoin, ‘Aisyah. Dan hadits ini shohih, disepakati atas keshohihannya.

2. Sabda RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wa sallam :
لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى ، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencela sahabatku. Seandainya salah seorang diantara kalian berinfaq sebesar Gunung Uhud berupa emas, itu tidak dapat menyamai pahala infaq mereka meski hanya satu atau setengah mud (berupa makanan).” (HR. Bukhori no.3362, Muslim no.2541)

Dan masih banyak lagi dalil yang menunjukkan para sahabat sebagai generasi terbaik.


DIALOG DALAM MASALAH INI :
1. Soal : Di sana ada hadits yang menyebutkan bahwa RasuluLlah rindu kepada saudara-saudara beliau, yaitu orang-orang yang tidak berjumpa dengan beliau akan tetapi beriman kepada beliau. Jadi, anggapan bahwa kaum muslimin yang terbaik ialah yang tinggal sejaman bersama Rasulullah telah ditepis oleh hadits tersebut. (Meraih Cinta Ilahi, Pencerahan Sufistik. Hal.62. Ditulis oleh Jalaludin Rakhmat (!), PT. Remaja Rosdakarya Bandung)
Jawab : Pertama, kami ingin balik bertanya, tatkala anda tinggal bersama ayah ibu anda yang mendidik dan menyayangi anda sejak kecil, tentunya anda pernah merasa rindu kepada teman atau saudara anda yang jauh dari anda. Lalu apakah itu mengharuskan anda lebih mencintai teman atau saudara anda daripada ayah ibu anda? Jawabnya tentu tidak. Maka dari itu hendaknya kita memahami dalil dengan benar.
Kedua, Dalil yang lebih shorih (jelas dan gamblang) telah menunjukkan bahwa para sahabat merupakan generasi terbaik, dan jumlahnya sangat banyak. Maka dalil yang shorih harus didahulukan daripada yang tidak shorih, terlebih bila kita salah memahami dalil yang tidak shorih tersebut.

2. Soal : Bukankah dalam Islam perkembangan manusia adalah evolusi progresif –maksudnya makin lama manusia akan semakin baik, makin cerdas, dan makin berilmu? Sehingga ini menandakan bahwa kaum muslimin akhir zaman adalah lebih baik daripada yang sezaman dengan Nabi? (Meraih Cinta Ilahi, Pencerahan Sufistik. Hal.63)
Jawab : Pertama, menentang dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah hanya karena sebuah teori kufur merupakan ketergelinciran yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang muslim. Lebih aneh lagi bila teori tersebut dicampuradukkan dengan ajaran Islam.
Allah telah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Kedua, RasuluLlah telah bersabda :
لا يأتي عليكم زمان إلا والذي بعده أشر منه حتى تلقوا ربكم
“Tidaklah datang suatu zaman, melainkan zaman setelahnya lebih buruk dari yang sebelumnya, sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian.” (HR. Bukhari dalam Kitabul Fitan no.6541, Ahmad 24/264, At Tirmidzi. Hadits senada juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban 13/282 no.5952 –Al Ihsan- , dan pentahqiq kitab Shahih Ibnu Hibban menshohihkannya)
Hadits ini secara tegas membantah teori yang disebutkan.
Ketiga, Perubahan manusia semakin lama semakin maju dan berilmu, hal ini mungkin dapat dibenarkan bila ilmu dan kemajuan yang dimaksud adalah dalam masalah duniawi dan teknologi. Itupun tidak sepenuhnya benar, terbukti banyak manusia manggunakan teknologi untuk kejahatan, kemesuman, dan perbuatan terlarang lainnya. Sehingga kita katakan, semakin lama manusia semakin mengalami kemunduran moral.

3. Soal : Allah telah berfirman الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى
“Yang Menciptakan, lalu Menyempurnakan (penciptaan-Nya).” (QS. Al A’la : 2)
Bukankah ini menunjukkan bahwa manusia berkembang (evolusi) ke arah kesempurnaan, baik secara fisik maupun mental? (Meraih Cinta Ilahi, Pencerahan Sufistik. Hal.64)
Jawab : Pertama, Diantara makna huruf fa’ ialah ta’qib (Lihat Mukhtashor Mughnil Labib hal.48. karya Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin), yaitu menunjukkan urutan dengan selang waktu yang sangat sedikit. Sehingga firman Allah “alladzi kholaqo fa sawwa” bermakna Allah menciptakan dan langsung menyempurnakan ciptaanNya. Dan tidak dapat diartikan bahwa Allah menciptakan, kemudian dalam waktu yang lama sedikit demi sedikit ciptaanNya itu mengalami perubahan menuju kesempurnaan seperti yang dianut oleh para pembela teori evolusi.
Kedua, bahkan diantara makna huruf fa’ adalah bermakna seperti huruf wawu (bermakna “dan”) (Lihat Mukhtashor Mughnil Labib hal.49), tanpa selang waktu sedikitpun. Maknanya, Allah menciptakan dan sekalian juga menyempurnakan ciptaanNya tanpa selang waktu sedikitpun. Dan makna inilah yang disebutkan oleh Al Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkenaan dengan ayat di atas. Beliau berkata “Yaitu Allah menciptakan makhlukNya dan menyempurnakan setiap makhluk dalam keadaan yang paling baik.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/466)

4. Soal : Contoh bahwa manusia mengalami perkembangan menuju kesempurnaan mental adalah bahwasanya pada jaman RasuluLlah masih ada orang yang thawaf mengelilingi ka’bah dalam keadaan telanjang. Namun sekarang, betapapun tidak bermoralnya seseorang, ia tidak akan thawaf dengan telanjang. (Meraih Cinta Ilahi, Pencerahan Sufistik. Hal.63.)
Jawab : Pertama, ya, memang ada, tapi yang melakukan thawaf seperti yang anda sebutkan bukanlah kaum muslimin, yang melakukan ialah orang-orang kafir. Setelah datang Islam, maka yang demikian itu dilarang, sehingga tidaklah boleh sesuatu yang dilakukan oleh non muslim kita nisbatkan kepada kaum muslimin.
Kedua, Kita melihat pada jaman sekarang, betapa banyak wanita yang berpakaian tapi telanjang, secara lahir berpakaian, namun tidak sesuai dengan syari’at, hakekatnya telanjang. Model dan trend pakaian ala barat makin marak dan digandrungi kaum muslimin. Jadi benar, tidak ada orang yang thawaf dalam keadaan telanjang pada jaman sekarang, tapi mereka telanjang dalam keseharian mereka. Belum lagi banyak laki-laki yang menyerupai wanita dan sebaliknya, meniru binatang, merubah ciptaan Allah dan sebagainya. Inikah yang dinamakan sebagai kesempurnaan mental?? Apakah berbagai tindak kejahatan yang marak dilakukan oleh manusia dapat dikatakan sebagai kesempurnaan mental?? Jawabnya adalah tidak sama sekali.
Oleh karena itu, telah jelas bagi kita semua bahwa para sahabat Rasul adalah generasi terbaik. WashallaLlahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ’ala alihi wa shohbihi wa sallam.

END NOTE :
[1] Tentunya disyaratkan pula harus beriman kepada Beliau sallaLlahu 'alaihi wasallam.
[2] Generasi setelah sahabat.